Kebutuhan manusia yang utama dikenal dengan istilah sandang, pangan, dan papan. Pakaian, makanan, dan tempat tinggal, yang artinya manusia hampir tidak bisa hidup tanpa ketiga unsur di atas.
Karena itu pula Rukminingsih membuka butik yang meski berada di kota kecil di Jawa Tengah, namun memiliki jaringan luas hingga ke kota-kota besar.
Retande Boutique, merupakan butik yang berada di Magelang, tepatnya di kawasan wisata Mendut, Kabupaten Magelang.
Meski berada berkilometer jauhnya dari pusat keramaian kota, butik yang dimiliki oleh seorang guru sekolah dasar ini memiliki pelanggan hingga ke beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Kalimantan.
Bukan sekadar penjahit baju biasa, Retande Boutique merupakan butik jahit baju yang biasa menangani pemesanan seragam, yang biasa dikenakan oleh karyawan kantor peme-rintahan, hotel, dan seragam masal lainnya.
Meski usaha butiknya identik dengan butik seragam, bukan berarti hasilnya asal-asalan. Menurut pemilik Retande Boutique Rukminingsih, kenyamanan pakaian saat dikenakan menjadi kepercayaan para pelanggannya.
Kunci sukses ibu dua anak ini adalah menjaga detail ukuran untuk masing-masing pe-langgannya sehingga ketidaknyamanan hasil jahitan yang biasa dikeluhkan oleh pelang-gan penjahit lainnya bisa diminimalisasi.
"Setiap orang memiliki bentuk badan berbeda, dan saya sangat memperhatikan potongan dan jahitan yang pas supaya nyaman dipakai," ujarnya.
Ide itu muncul 20 tahun yang lalu, ketika dia hobi menjahitkan pakaian. Maklum, pegawai negeri yang sekaligus istri kepala desa dan lurah Mendut ini kerap mengenakan seragam saat bertugas.
Sayangnya, jahitan yang dipercayakan kepada beberapa penjahit kurang nyaman dipakai di badannya. Hingga terpikir di benak Rukmin untuk mencoba-coba memotong dan menjahit baju sesuai ukuran tubuhnya.
Namun bukan berarti tanpa bekal, lulusan sarjana pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Magelang ini pernah meng-asah kemampuan dalam hal mengukur, memo-tong, dan menjahit kain dari lembaga kursus menjahit di Magelang.
Mulut ke mulut
Merasa cukup ilmu menjahit baju, eksperimen pertama dilakukan untuk menjahit pakai-annya sendiri dan sang suami. Alhasil, jahitannya pas badan dan nyaman dikenakan.
Merasa yakin dengan hasilnya, Rukmin menambah jumlah baju siap pakai untuk pegawai negeri yang dia buat dengan tiga ukuran kecil, sedang, dan besar (S, M, L). Tidak disangka, banyak kawan-kawan sekerja dan rekanan sang suami membelinya.
Dari mulut ke mulut, kemampuan Rukmin dalam hal mengukur dan mengira-ngira ukuran pada bentuk tubuh yang berbeda-beda semakin luas dan semakin dikenal banyak orang.
Usaha jahitan yang awalnya hanya dijalankan di salah satu sudut rumahnya dengan menggunakan satu mesin jahit, sekarang sudah berkembang sangat pesat.
Kini rumahnya bak rumah butik. Rumah ukuran 10x20 meter persegi ini sudah menjadi showroom sekaligus workshop butik Retande Boutique.
Di rumah ini pula, guru yang masih aktif mengajar ini memperkerjakan 20 tenaga penjahit dan tukang potong yang mampu memproduksi pakaian seragam dalam jumlah masal.
Hotel dan restoran seperti Amanjiwo dan Manohara, pemandu wisata kawasan wisata Prambanan, Borobudur, dan Mendut, sudah menjadi pelanggan tetapnya selama tiga tahun belakangan.
Bukan hanya itu. Beberapa kantor dinas Kabupaten Magelang, kota-kota lain di Yogyakarta dan Semarang juga ada yang menjadi pelanggannya.
Untuk memudahkan proses pembuatan baju, Rukmin menyediakan salah satu sudut rumahnya sebagai tempat menyimpang gulungan kain dalam jumlah besar yang biasa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan baju.
Bukan hanya itu saja, untuk urusan motif, desain, dan pilihan model juga bisa dilakukan di butik Rukmin. Apalagi supaya hasilnya maksimal, dia banyak memberikan nasihat mengenai model yang disesuaikan dengan keinginan dan bentuk tubuh pelanggannya.
Untuk itulah anaknya yang sarjana ekonomi manajemen dari Universitas Islam Indonesia Yogya-karta menambah pengetahuannya tentang merancang dan mendesain pakaian lewat jalur kursus desain.
"Anak saya sarjana ekonomi tapi akhirnya kursus desain supaya bisa mengembangkan usaha keluarga ini," ujar perempuan yang sehari-hari mengenakan kerudung ini.
Meski masih aktif mengajar, untuk urusan manajemen usaha dia masih turut serta. Maklum, urusan menghitung biaya produksi dan jasa jahit lainnya, masih di tangannya.
Dia sudah sangat mahir dalam urusan me-ngalkulasi biaya-biaya, mengingat sejak awal usaha ini berdiri semua keputusan ada di -tangannya.
Ke depan, dia hanya ingin bisnis ini tetap berjalan. Dia juga ber-harap usahanya akan mampu menembus ja-ringan ke kota-kota besar lainnya, untuk se-makin memperkuat identitas rumah jahitnya yang identik dengan seragam. (wulandari@bisnis.co.id)
Th. D. Wulandari
Bisnis Indonesia
Tuesday, July 29, 2008
Sukses dengan pas ukuran
Posted by
Nick : Ninjaijo
at
2:04 PM
0
comments
Labels: Bisnis Indonesia
Thursday, January 24, 2008
Amanah busana muslim
Amanah busana muslim
Bekerja selama bertahun-tahun di perusahaan hingga mencapai posisi strategis ternyata tidak menjamin seseorang puas dengan kehidupannya. Ada sebagian orang yang merasa jenuh berkarir di sebuah perusahaan setelah bertahun-tahun lamanya bekerja, hingga akhirnya memilih mengundurkan diri dan beralih profesi menjadi usahawan.
Berbekal keyakinan, kegigihan, dan kesabaran, usaha yang sudah dipilih dan dilakoninya dari bawah itu tidak kalah sukses dengan kesuksesan karier yang sudah ditinggalkan.
Hal inilah yang dibuktikan Nana Hasanah, mantan service manager sebuah bank asing yang setelah 20 tahun lamanya berkarier, namun memutuskan banting setir sebagai pengusaha busana muslim lukisan tangan.
Diakui ide berwirausaha di bidang busana muslim ini diperolehnya bak wahyu yang diterima kala dirinya menjalankan ibadah haji di Tanah Suci tiga tahun lalu.
Mengenakan mukena dan kerudung modifikasi hasil rancangannya sendiri, tanpa diduga Nana langsung kebanjiran order sesama jamaah haji yang menginginkan mukena dan kerudung yang dikenakannya.
Sejak saat itulah Nana akhirnya memutuskan beralih profesi sebagai pengusaha busana muslim. Kebetulan ibu dua anak ini telah memutuskan mengenakan kerudung menjelang keberangkatannya menunaikan ibadah haji pada 2004.
Tidak berarti perjalanan usaha Nana lancar sampai di situ. Lulusan akademi sekertaris ini mengaku tidak memiliki keterampilan khusus di bidang jahit menjahit baju.
Ditambah lagi Nana tidak siap dengan sumber daya penjahit yang akan mengerjakan semua pesanan yang terlanjur diterimanya.
"Akhirnya saya pakai tukang jahit langganan untuk mengerjakan pesanan saya, ditambah saya mulai cari-cari karyawan. Beruntung tiga bulan kemudian saya sudah dapat 14 karyawan," ujar perempuan kelahiran Pontianak 45 tahun yang lalu ini.
Banjirnya pesanan yang datang, dikarenakan koleksi busana muslim buatan Nana memang memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk lainnya.
Selain mengutamakan modifikasi bordir dengan bahan berkelas, busana muslim buatan Nana dihiasi dengan lukisan tangan bermotif bunga yang idenya langsung lahir dari idenya.
Bahan sifone atau sutra kualitas terbaik, dengan lukisan cantik yang menghiasinya, ditambah pengerjaan bordir yang halus dan cermat, membuat semua produk Dahayu Citra Busana ini banyak diminati pelanggan.
Sebut saja beberapa nama istri pejabat negara, top level di perusahaan-perusahaan, eksekutif, hingga pelanggan mancanegara menggemari semua produk buatan pengusaha tersebut, mulai dari mukena, kerudung, baju muslim, selendang, busana pesta, hingga busana penantin sekaligus maharnya.
Namun, jangan sekali-kali Nana diminta membuat busana gaun malam yang terbuka dan menonjolkan aurat, tentu akan langsung ditolaknya.
Sejak memutuskan untuk berwirausaha, dia memutuskan untuk tetap konsisten di jalur busana muslim.
"Sudah banyak pelanggan yang terpaksa saya tolak karena mereka memesan baju yang tidak sesuai dengan kaedah busana muslim," ujar pemilik workshop di kawasan Bintaro Jakarta Selatan ini.
Koleksi dan motif Nana semakin meriah, apalagi saat salah satu keponakan yang seorang desainer pernah bekerja kepada seorang perancang terkenal Indonesia melengkapi koleksinya.
Dari tangan sang keponakan itulah semua ide atas rancangannya dapat diterjemahkan secara pas dan memuaskan semua pelanggannya.
Apalagi tiap satu buah produksi busana muslim yang dihasilkan merupakan produk tunggal, alias tidak ada produk yang sama baik itu motif ataupun model yang diproduksi secara massal.
Tidak heran jika untuk satu buah busana muslim dipasarkan untuk kalangan terbatas dan berharga mahal.
Semua kelas
Namun, tidak berarti Nana hanya bermain di kelas atas, terbukti dia ingin mengembangkan usaha ke masyarakat kebanyakan yang memiliki selera dalam berbusana muslim.
"Saya pribadi ingin memasyarakatkan busana muslim, jangan sampai ada anggapan busana muslim itu kuno dan tidak trendi sehingga orang enggan mengenakan," ujar perempuan pernah turut serta dalam ajang Bali Fashion Week 2004.
Untuk menambah kapasitas produksi yang terbatas, Nana tengah melatih beberapa orang untuk melukis di atas kain dengan gaya dan motif khas berikut penambahan karyawan hingga 16 orang.
eski demikian tidak menutup kemungkinan Nana menerima pesanan model dan motif sesuai keinginan pelanggan, meski untuk menentukan model yang pas, banyak berkonsultasi dengan pelanggannya.
Pengenalan karakter pelanggan, kedekatan secara personal, kebutuhan pesanan, serta ide dan gagasan antara dirinya dengan pelanggan dianggap modal utama Nana menentukan garis rancangan dan motif yang sesuai.
Apalagi dia tidak melulu mengedepankan aksesori pada kain, namun kesesuaian antara pilihan busana dengan karakter pelanggannya.
Dan cara-cara inilah yang diakuinya menjadi modal kesuksesannya menjalankan bisnis ini yang diakuinya banyak memuaskan pelanggan hingga menyebarkan pengalaman mereka dari mulut ke mulut.
Ke depan Nana ingin mengembangan bisnis ini bukan semata-mata untuk kepentingan komersial semata. Usaha bisnis yang dianggapnya sebagai amanah ini diharapkan akan memberi manfaat bagi banyak orang.
"Kalau dulu [semasa bekerja] saya puas waktu gajian karena dapat banyak uang, kini kepuasan saya terletak pada kemampuan saya menyejahterakan karyawan saya," ujarnya sembari tersenyum. (wulandari@bisnis.co.id)
Th.D. Wulandari
Bisnis Indonesia
Posted by
Nick : Ninjaijo
at
5:55 PM
0
comments
Labels: Bisnis Indonesia