Tuesday, September 25, 2007

Preman Jalanan

Preman Jalanan

Jadwal bus di kota yang teratur selalu tepat, kecuali jika terjadi force majeure. Beda dengan bus di Jakarta yang selama hampir setengah abad tak bisa diandalkan.

Busway, salah satu moda bus rapid transit (BRT), ingin mengakhiri penyakit itu. BRT disebut dengan quality bus karena tujuannya memberikan servis lebih baik.

Ia disebut rapid transit karena melayani jarak menengah-jauh, bukan jarak dekat. Ia cepat karena tak sering singgah di halte walau kecepatannya tak sampai 100 km/jam.

BRT ditentang karena butuh dana besar untuk membangun jalan khusus—misalnya BRT Orange Line di Los Angeles, Amerika Serikat. BRT Rapid, juga di Los Angeles, menambah kemacetan karena dioperasikan di jalan umum.

Makanya busway di Jakarta jalan pintas yang kontroversial sehingga warga Pondok Indah menentangnya. Hanya di sana ada sebuah jalan besar dihiasi patung-patung berlampu sorot.

Hanya di sana banyak portal, tong, atau polisi tidur. Anda pasti kesasar jika masuk Pondok Indah saat malam karena nyaris semua jalan ditutup portal.

Sebagian warga mengajukan class action terhadap pemerintah yang menaikkan tarif tol. Rakyat bukan hanya membiayai investasi pembangunan tol, PLN pun tiap bulan menagih biaya penerangan jalan.

Banyak yang tak tahu berapa kecepatan maksimal/minimal di tol. Akibatnya, mobil di belakang suka memencet klakson meski Anda benar karena spidometer menunjukkan kecepatan maksimal 80 km/jam.

Banyak juga mobil melaju di jalur paling kanan di bawah kecepatan minimal 60 km/jam. Mereka itulah yang justru suka ngedumel "jalan tol macet melulu".

Saat masuk terowongan mobil menyalakan lampu hazard yang kelap-kelip, bukannya "lampu besar". Saat tol macet, konvoi pejabat pun tak sungkan-sungkan ngebut di bahu jalan.

Kalau menabrak kucing, biasa sang sopir berhenti, mengelilingi bangkai kucing tujuh kali, dan berhenti menyetir 40 hari. Jika menabrak orang, ya lari.

Ketika lewat jembatan berpohon beringin sopir membunyikan klakson tiga kali sambil mengucapkan doa-doa "sakti". Kalau ada huruf tanda larangan berhenti di tepi jembatan, siapa yang peduli?

Hari Sabtu lalu, jalan protokol ditutup dalam rangka Car Free Day. Namun, Bang Yos meninjau pelaksanaannya dengan mobil.

Wagub baru dapat jatah Camry anyar dan para anggota DPRD kebagian Altis baru. Seorang anggota DPRD berkilah bahwa Altis itu untuk menjalankan "tugas perjalanan".

Jadi jalan itu milik siapa sih? Walau semua aturan menyebut "jalan umum", semua merasa paling berhak.

Cepék man penguasa tikungan, bukan polisi. Tak sedikit orang penting menutup jalur lambat di depan rumahnya dengan portal seolah-olah milik pribadi.

Jalan adalah "lajur politik". Ia bak taman bermain bagi tiap aktor untuk mempraktikkan politik karena jalan lebih bergengsi ketimbang nongkrong di istana atau ngelamun di Gedung MPR/DPR.

Jalan efektif untuk tiap jenis perjuangan. Ia jadi "tujuan wisata" utama pengunjuk rasa dan juga sarana ampuh untuk menarik simpati dari rakyat.

Di jalanlah demonstran meneriakkan demokrasi, meski metromini yang mengangkut mereka parkir seenaknya. Di jalanlah pendemo mengaku membela kepentingan umum, meski mereka membuang sampah sembarangan.

Kalau situasi tegang, aparat memblokade jalan karena demonstran menutup jalan. Kalau situasi sudah cair, giliran para pedagang bakso dan teh botol menguasai jalan.

Ingat, republik ini lahir di tepi jalan saat Proklamasi diucapkan di halaman rumah di Jalan Pegangsaan. Bangsa ini pecah juga di jalan akibat ulah Letkol Untung dan anak buahnya berkeliaran di jalan-jalan di Monas, Menteng, dan Kebayoran.

Periodisasi sejarah bangsa ini disimbolkan dengan proyek pembangunan jalan. Belanda membangun Anyer-Panarukan dan Orde Lama punya Jalan Jakarta Bypass bantuan dari AS.

Orde Baru terkenal suka membangun tol yang lebih mahal daripada Taj Mahal. Orde Reformasi masyhur berkat kultur "jalan-jalan" pejabat/politisi yang rajin melawat/studi banding ke luar negeri.

Di republik ini kata jalan sangat politis. Bung Karno marah jika revolusi "berhenti di tengah jalan", Pak Harto minta rakyat berkorban demi pembangunan saat tanahnya digusur untuk pelebaran jalan.

Setelah Pak Harto tumbang, reformasi enggak pernah jalan. Kini kita suka merenung apakah ada jalan keluar atau jalan pintas agar republik ini selamat?

Jenderal Besar AH Nasution penggagas ideologi "Jalan Tengah" yang kebablasan jadi Dwifungsi ABRI. Rakyat yang kecewa lebih percaya kepada "parlemen jalanan" daripada parlemen beneran.

Pengendara di Ibu Kota sering tak tahu penyebab jalan macet total. Sampai kini tak ada yang tahu kenapa republik gégér gara-gara pelatih karateka dipukuli polisi Malaysia ketika sedang jalan-jalan.

Aparat keamanan tak hafal nama jalan tempat Nurdin Halid ditangkap. Maklum di Menteng ada puluhan nama jalan, mulai dari nama pulau, kota, sampai pahlawan.

Di antara kita banyak preman jalanan. Mereka tak tumbuh normal karena "besar di jalan".

Mereka doyan nongkrong daripada kerja, suka berwacana daripada tutup mulut, dan tak jantan alias gemar keroyokan. Sungguh kasihan.

Read More......

Sunday, September 09, 2007

Pilih "Unit Link" atau Reksa Dana?

Pilih "Unit Link" atau Reksa Dana?

Elvyn G Masassya/praktisi keuangan

Dalam perencanaan keuangan, penghasilan seseorang sejatinya dialokasikan pada tiga hal utama, yakni konsumsi, tabungan, dan investasi plus proteksi.

Alokasi konsumsi digunakan membiayai kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sementara, alokasi untuk tabungan untuk dana berjaga-jaga. Sedangkan investasi adalah tindakan menumbuhkembangkan aset. Terakhir, setiap orang juga selayaknya memagari risiko dengan asuransi.

Permasalahannya, produk investasi dan asuransi terus berkembang, sejalan dengan semakin canggihnya keinginan pengguna produk. Termasuk adanya produk gabungan dari berbagai jenis investasi dan asuransi. Ada yang disebut reksa dana dengan bermacam tipe, ada tabungan plus asuransi, ada asuransi plus investasi, dan bahkan tidak sedikit yang merancang gabungan produk, seperti unit link.

Belakangan malah cukup banyak produk keuangan yang "kawin silang". Semua itu membuat khazanah produk investasi keuangan semakin menarik, tetapi juga bisa lebih membingungkan. Produk yang relatif mirip, misalnya, antara reksa dana dengan unit link, bagaimana membedakan antara keduanya? Apa saja plus-minusnya? Paparan berikut ini akan mengulas hal tersebut.

Jenis investasi

Reksa dana pada dasarnya adalah sekeranjang produk investasi keuangan, seperti saham, obligasi, surat berharga pasar uang, dan lain sebagainya. Ini yang membedakan dengan misalnya, Anda membeli satu jenis saham atau obligasi atau juga produk investasi lainnya. Di reksa dana, isi keranjang investasinya bisa macam-macam. Ada yang disebut dengan reksa dana saham yang terdiri atas bermacam jenis saham. Ada pula reksa dana berpendapatan tetap yang bermuatan obligasi, dan reksa dana campuran maupun reksa dana pasar uang.

Bedanya dengan investasi langsung di saham ataupun obligasi adalah reksa dana dikelola manajer investasi di mana isi keranjang investasinya ditentukan oleh mereka. Dengan kata lain, manajer investasi sudah lebih dulu membeli bermacam produk investasi, lalu produk investasi itu dipecah-pecah dan dimasukkan ke dalam bermacam keranjang yang disebut sebagai reksa dana, baru kemudian dijual kepada investor.

Apa manfaatnya bagi investor? Jelas risikonya bisa lebih rendah dibandingkan, misalnya, hanya membeli satu jenis saham atau satu jenis obligasi. Alasannya, di dalam keranjang tersebut sudah bercampur berbagai jenis saham atau surat berharga lain yang risikonya bisa saling menghilangkan/offset.

Sementara itu, unit link hakikatnya adalah produk asuransi jiwa yang digandengkan dengan investasi. Jadi, kalau Anda membayar premi asuransi, maka sebagian premi itu diinvestasikan di berbagai surat berharga yang kerap disebut juga sebagai unit penyertaan. Pengelolaan dana investasi dilakukan terpisah, yakni fund manager. Jadi, hanya dana pertanggungan asuransi yang dikelola sendiri oleh perusahaan asuransi.

Hal di ataslah yang membedakan unit link dengan produk asuransi plus investasi, yang juga dikenal dengan istilah asuransi dwiguna. Pada produk ini, semua premi dikelola sendiri perusahaan asuransi, termasuk investasinya.

Lalu di mana beda antara unit link dengan produk asuransi dwiguna?

Prinsipnya sama, yakni asuransi plus investasi, tetapi pengelolanya berbeda. Umumnya, hasil perkembangan dana investasi dalam unit link lebih mudah dimonitor karena pergerakan nilainya dapat dilihat dari waktu ke waktu secara transparan.

Lantas di mana beda signifikan kedua produk tersebut? Pada reksa dana, semua dana Anda sejak awal sudah diinvestasikan dalam produk tersebut. Dengan kata lain, Anda menempatkan dana secara sekaligus ketika Anda membeli reksa dana. Jadi, katakanlah, Anda membeli reksa dana A sejumlah Rp 100 juta, maka Anda sudah mengeluarkan dana investasi Rp 100 juta.

Pada unit link yang diinvestasikan adalah premi Anda yang notebene Anda bayar bertahap. Katakanlah Anda membeli unit link dengan nilai uang pertanggungan Rp 500 juta, lalu katakanlah premi yang Anda bayar Rp 5 juta per bulan. Sekian persen dari Rp 5 juta itulah yang akan diinvestasikan dalam berbagai produk investasi oleh perusahaan investasi yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi. Ringkasnya, pada reksa dana, investasi dilakukan sekaligus, pada unit link investasi dilakukan bertahap.

Tergantung tujuan

Pertanyaannya, mana yang lebih baik? Bergantung pada tujuan Anda. Jika saat ini Anda sudah memiliki proteksi stand alone, maka menginvestasikan sebagian uang Anda secara langsung pada reksa dana bisa menjadi pilihan. Dengan catatan, Anda memiliki sejumlah uang tertentu.

Jika Anda ingin memiliki perangkat proteksi sekaligus sebagai investasi dan kebetulan belum memiliki uang yang cukup besar, unit link boleh menjadi pilihan. Atau jika Anda memiliki jumlah uang cukup besar untuk diinvestasikan secara langsung ke reksa dana dan Anda juga telah memiliki produk asuransi secara stand alone, maka untuk menambah investasi asuransi stand alone dapat diubah menjadi unit link. Intinya, baik reksa dana maupun unit link sebenarnya sama-sama baik. Masalahnya, bagaimana memilih reksa dana dan unit link secara tepat.

Seperti dipaparkan di atas, pengelolaan reksa dana maupun unit link–untuk aspek investasinya–dikelola fund manager. Jadi, keberhasilan dalam investasi di kedua produk tersebut sebenarnya sangat bergantung pada seberapa piawai fund manager memilih produk investasinya.

Dengan kata lain, Anda harus meneliti lebih dulu rekam jejak lembaga yang menerbitkan produk reksa dana maupun unit link dimaksud. Setelah itu, baru meneliti apa saja jenis produk investasi yang dibeli.

Jadi, jangan langsung tergiur janji manis. Ini seperti kata pepatah "teliti sebelum membeli" atau juga "menyesal kemudian tidak berguna".

Pertanyaan dapat diajukan kepada penulis melalui kompas@kompas.com

Read More......

Sunday, August 12, 2007

Pengaruh Iklan

Pengaruh Iklan

Gencarnya iklan makanan di media massa ikut memengaruhi kebiasaan jajan pada anak-anak dan orangtua. Menurut psikolog Mayke Tedjasaputra, salah satu alasan anak mencoba makanan adalah tertarik dengan iklan, terutama iklan televisi.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia juga pernah mengadakan survei untuk mengetahui dampak iklan televisi produk makanan terhadap anak. Survei dilakukan bekerja sama dengan lembaga nonpemerintah, Consumer International.

Hasil survei menunjukkan, 32 persen anak minta dibelikan produk makanan karena menyukai produk yang diiklankan. Sebanyak 21 persen anak mengonsumsi makanan tertentu karena menyukai iklannya. Sisanya lagi ada bermacam alasan mengapa anak minta dibelikan makanan, mulai dari tertarik model iklan, pengaruh teman, tergiur hadiah, hingga yang lainnya.

Di Indonesia, iklan produk makanan banyak ditayangkan pada program anak-anak, seperti film, musik, dan kartun. Padahal, ketiga program ini menjadi tontonan favorit anak-anak. Di negara kita juga belum ada peraturan yang melarang atau setidaknya memberikan panduan untuk iklan yang ditayangkan pada program anak-anak.

Berbeda dengan Swedia dan Norwegia. Kedua negara itu tidak mengizinkan iklan televisi apa pun yang langsung ditujukan kepada anak di bawah 12 tahun. Program anak-anak di televisi juga harus bebas dari iklan. (IND)

Batasi Jajan

Melarang anak untuk tidak jajan sulit dilakukan. Apalagi jika anak sudah berumur sembilan tahun karena mereka biasanya malu jika membawa bekal dari rumah.

Meski tidak bisa dilarang, kebiasaan jajan pada anak-anak bisa dibatasi. Berikut tips cara membatasi jajan:

* Terapkan kebiasaan makan sehat dan beragam di rumah.

* Batasi uang saku anak. Soal besaran uang saku sebaiknya dikomunikasikan dengan anak.

* Pilihan makanan yang akan dibeli sebaiknya dibatasi. Pilihlah makanan yang bersih, aman, dan sehat. Anak juga perlu diajari untuk memilih makanan yang baik.

* Ajarkan anak untuk mengelola uang dengan baik.

* Beri penghargaan kepada anak jika ia berhasil mengurangi kebiasaan jajan. (IND)

Read More......

Waspadai Kebiasaan Jajan pada Anak

Waspadai Kebiasaan Jajan pada Anak

Lusiana Indriasari

Sekarang ini anak-anak sudah sangat terbiasa dengan jajan. Karena dibekali uang oleh orangtuanya, anak terbiasa jajan sembarangan.

Kebiasaan jajan bisa berakibat fatal karena sekarang ini banyak ditemukan kandungan bahan kimia berbahaya pada makanan anak-anak.

Bekal uang jajan biasanya diberikan oleh orangtua yang sibuk bekerja. Mereka tidak sempat menyiapkan makanan buatan sendiri untuk anak-anaknya.

Ada juga orangtua yang gemar membeli makanan siap saji atau makanan dalam kemasan untuk bekal anaknya. Padahal, makanan semacam itu biasanya mengandung banyak gula atau penyedap rasa.

Seorang ibu, sebut saja Melani (31), setiap tiga hari sekali selalu membeli bekal di supermarket untuk anaknya yang masih balita. Ia tidak pernah lupa untuk membeli wafer cokelat, minuman susu dalam kemasan, dan permen cokelat kecil-kecil yang berwarna-warni.

"Ini makanan kesukaan anak saya," tutur Melani yang tinggal di kawasan Tangerang, Banten. Sebagai ibu yang bekerja, Melani memang tidak sempat membuatkan bekal untuk anaknya. Ia harus berangkat pagi-pagi sekali agar tidak terlambat sampai ke kantornya di Jakarta.

Psikolog Mayke Tedjasaputra dari Universitas Indonesia mengungkapkan, budaya ingin serba cepat memengaruhi sikap anak, termasuk kebiasaan mereka untuk jajan. Menurut Mayke, pola jajan pada anak terbentuk melalui pembiasaan.

Orangtua yang sering jajan akan "melahirkan" anak-anak yang suka jajan. Semula anak meniru orangtuanya yang suka jajan. Di sekolah, mereka meniru teman-temannya yang juga suka jajan.

Perilaku ini semakin kuat karena dukungan lingkungan, seperti keberadaan penjual makanan di kantin atau di sekitar sekolah. Penjual makanan keliling yang lewat di depan rumah juga mendorong anak untuk jajan.

Mayke mengatakan, para ibu masa kini banyak yang bekerja di luar rumah. Mereka lalu merasa tidak punya waktu untuk membuat bekal makanan. Faktor harga yang lebih murah juga mendorong orangtua untuk membeli makanan siap saji daripada harus membuat sendiri.

"Ini berbeda dengan zaman dulu ketika para orangtua harus membuat sendiri segala sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup sehari-hari, mulai dari pakaian, perlengkapan rumah, hingga makanan," tutur Mayke.

Kebiasaan orangtua mengajak anak-anaknya "makan di luar" setiap akhir pekan, menurut Mayke, juga bisa mendorong perilaku senang jajan. Anak jadi punya anggapan bahwa makan di mal, restoran, atau warung sebagai bentuk rekreasi.

Kurang variasi

Faktor lain yang menyebabkan anak suka jajan adalah kurang bervariasinya makanan di rumah. Anak menjadi bosan dengan makanan yang disiapkan di rumah lalu tergiur dengan jajanan.

Kebiasaan jajan ini lalu diperkuat oleh lingkungan, terutama di permukiman padat penduduk. Ketika salah satu anak tetangga jajan, anak-anak lain tidak mau kalah. Mereka lalu meminta jajan kepada orangtuanya dan menangis kalau tidak diberi. Orangtua merasa tidak tega dan akhirnya memberi jajan kepada anaknya.

Dampak negatif muncul pada anak yang sering jajan. Anak menjadi enggan makan, terutama bila mereka jajan berdekatan dengan waktu makan. Anak juga tidak punya selera terhadap makanan rumah karena mereka terbiasa jajan. Sering kita melihat orangtua terpaksa menyuap anaknya sambil memberikan camilan agar anaknya mau makan.

Mayke mengungkapkan, orangtua punya tanggung jawab membentuk kebiasaan positif kepada anak meskipun mereka sibuk bekerja. Mayke menyarankan agar orangtua tetap menyempatkan diri membuat bekal makanan sendiri.

"Orangtua bisa bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekal. Atau segala sesuatunya sudah disiapkan malam harinya sehingga pagi tinggal menyelesaikan pekerjaan akhir saja," lanjutnya.

Menurut Mayke, menyiapkan bekal tidak harus dilakukan oleh ibu, tetapi juga bisa dilakukan oleh ayah. Usaha orangtua menyiapkan bekal anak juga berpengaruh positif terhadap jiwa anak. Anak merasa diperhatikan karena orangtua mau bersusah payah membuatkan makanan untuknya.

Read More......

Belajar Sambil Mencari Rumus Praktis

Belajar Sambil Mencari Rumus Praktis

Lusiana Indriasari dan Pingkan Elita Dundu

Seleksi penerimaan mahasiswa baru atau SPMB akan dibuka satu tahun lagi. Meski begitu, banyak pelajar SMA sudah mulai membekali dirinya dengan bimbingan belajar. Ada yang ikut pendalaman materi atau sekadar mencari rumus praktis.

Meski nilai di sekolahnya selalu delapan dan sembilan, Arrisa Sutiati (17), akrab dipanggil Rissa, masih tidak percaya diri dengan kemampuannya. Agar bisa lolos SPMB tahun depan, Rissa sudah memilih tempat bimbingan belajar di kawasan Jakarta Selatan.

Pelajar kelas XII SMA (kelas 3) Al-Izhar ini ikut bimbingan belajar sedini mungkin untuk mengulang pelajaran kelas satu dan kelas dua. Ia merasa berat harus mengulang pelajaran tanpa bimbingan. Alasannya, ia masih harus belajar untuk pelajaran di kelas XII. "Kalau ikut bimbingan, kita dibantu mengulang pelajaran," tutur Rissa.

Bimbingan belajar membuat Rissa lebih percaya diri mengikuti SPMB. Ia merasa tidak "aman" jika tidak ikut bimbingan belajar. Menurut Rissa, sebagian besar anak di sekolahnya ikut bimbingan belajar.

"Aku takut enggak keterima di universitas negeri karena saingannya berat," kata Rissa. Tahun depan ia ingin masuk kedokteran gigi, akuntansi, dan psikologi di Universitas Indonesia.

Sekar Anggraeni (17), pelajar SMA swasta di Bekasi, punya alasan sama. Selain karena kurang memahami pelajaran di sekolahnya, Sekar ikut bimbingan belajar agar lebih percaya diri ketika menghadapi tes SPMB. Sekar bahkan sudah ikut bimbingan belajar sejak kelas XII SMP.

Sekar ikut bimbingan belajar Nurul Fikri di Bekasi yang tidak jauh dari rumah. "Kalau dulu fokusnya ke pelajaran sekolah, sekarang saya fokus ke SPMB," kata Sekar. Ia masuk bimbingan belajar seminggu dua kali.

Ketika masih di kelas XI, Rissa juga sudah ikut bimbingan belajar. Namun, bimbingan tersebut lebih mengarah ke pendalaman materi pelajaran yang diajarkan guru di sekolah. Rissa bisa datang kapan saja jika ada pelajaran sekolah yang kurang dipahaminya.

Biaya tinggi

Bagi orangtua, bimbingan belajar berarti mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Di Jakarta banyak penyelenggara bimbingan belajar yang mematok harga tinggi. Biayanya bisa dibilang "bersaing" dengan uang masuk sekolah favorit.

Tira (49), orangtua Rissa, misalnya, harus membayar Rp 6,5 juta agar anaknya bisa ikut bimbingan belajar selama 12 bulan. Biaya itu untuk program bimbingan belajar biasa. Apabila ada yang ingin mengambil program jaminan, orangtua harus membayar Rp 11 juta.

Program jaminan ini lebih mahal karena memberi "garansi" kepada orangtua bahwa anak-anaknya pasti diterima di universitas negeri. Kalau tidak diterima, menurut Tira, uang akan dikembalikan setelah dipotong biaya Rp 2 juta. Seluruh uang bimbingan itu harus dibayarkan langsung di muka.

Nuryani (36), orangtua Sekar, merogoh kocek Rp 1.780.000 untuk bimbingan belajar anaknya selama 12 bulan. Jumlah ini sudah dipotong 30 persen dari biaya sebelumnya karena Sekar masuk ranking lima besar dari tes yang diadakan tempat bimbingan tersebut.

Karena sudah membayar mahal, orangtua tentu punya harapan anaknya bisa diterima di perguruan tinggi negeri. Namun, kenyataan tidak selalu demikian. Ratna Farida (46) punya pengalaman pahit mencari perguruan tinggi untuk anaknya, Ditya (17), alumnus SMA Negeri 81 Jakarta Timur.

Ditya tidak lolos SPMB bulan Agustus lalu. Padahal, ia sudah ikut bimbingan belajar favorit yang biayanya mahal. Ditya ingin masuk fakultas kedokteran di Universitas Indonesia atau Universitas Sebelas Maret.

"Ditya kecewa sampai berhari- hari," ungkap Ratna. Ia berusaha memberi pengertian kepada anaknya agar mau masuk perguruan tinggi swasta. Menurut Ratna, kuliah di perguruan tinggi swasta tetap bisa menjamin masa depan anaknya. Ditya kini kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia di Jakarta. Tahun depan ia berencana mengulang tes SPMB.

Kepanikan orangtua dan anak menghadapi tes SPMB tampaknya dimanfaatkan dengan baik oleh penyelenggara kegiatan bimbingan belajar. Selain bimbingan di luar sekolah, sebenarnya banyak sekolah SMA yang mengadakan bimbingan belajar sendiri.

Bimbingan belajar di dalam lingkungan sekolah biasanya diadakan oleh alumni sekolah bersangkutan dan biasa disebut bimbingan tes alumni (BTA). Ekadewi (21) atau Dewi, alumnus SMA Negeri 81 Jakarta Timur, mengikuti BTA di sekolahnya beberapa tahun lalu.

Dewi memilih ikut BTA daripada bimbingan belajar di luar sekolah. Alasannya, biayanya lebih murah. Ketika itu, ia hanya dikenai biaya Rp 700.000 yang bisa dibayarkan dua kali. Bimbingan tes alumni ini membimbing siswa untuk menghadapi ujian akhir nasional (UAN) dan SPMB.

Meski tidak ikut bimbingan belajar yang biayanya mencapai jutaan rupiah, Dewi berhasil lolos SPMB dan diterima di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi China Universitas Indonesia.

Selain BTA, kadang-kadang pihak sekolah juga bekerja sama dengan penyelenggara bimbingan belajar dari luar sekolah. Menurut Tira, cara ini lebih "aman" karena sekolah hanya mengambil program yang digunakan bimbingan belajar tersebut. Adapun penerapannya dilakukan sendiri oleh guru sekolah. "Bagaimana pun guru sekolah lebih kenal dan mengerti anak didiknya," ujar Tira.

Rumus praktis

Ada alasan lain mengapa pelajar SMA lebih memilih bimbingan belajar dibandingkan dengan les di sekolahnya. Mereka masuk bimbingan untuk mencari rumus praktis.

Menurut beberapa anak yang pernah mengikuti bimbingan belajar, rumus praktis sangat berguna untuk kecepatan mengerjakan soal, terutama bagi anak yang mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), karena sebagian besar soalnya adalah hitungan.

"Dengan rumus praktis ini kita bisa menyelesaikan soal lebih banyak dengan benar," ungkap Wisnu (21) yang berhasil menembus Institut Teknologi Bandung (ITB) berkat rumus praktis yang dipelajarinya. Menurut Wisnu, dengan rumus biasa, ia baru bisa memperoleh hasil akhir setelah menghitung dengan cara berbelit-belit.

Bagi sebagian anak, rumus praktis justru membingungkan. Pasalnya, rumus praktis hanya berlaku untuk kondisi tertentu saja. Kalau bentuk soalnya diubah, sering kali rumus praktis itu sudah tak bisa dipakai. "Ketika kita mau pakai rumus yang biasa, ternyata kita udah lupa rumus aslinya karena terlalu sering pakai rumus praktis," kata Dewi.

Dewi menerapkan sistem belajar "sersan", serius tapi santai, untuk menghadapi SPMB. Ia mengaku merasa tertekan dan tidak bisa menyerap pelajaran jika pulang sekolah masih harus bimbingan belajar sampai malam. Meski "sersan", Dewi tidak mau terlalu mengandalkan rumus praktis.

Read More......

Pupuk Rasa Percaya Diri

Pupuk Rasa Percaya Diri

Mengandalkan bimbingan belajar agar bisa lolos tes seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) adalah gejala yang lumrah terjadi setiap tahun. Namun, hal ini mengundang keprihatinan Farida Kurniawati, psikolog dari Universitas Indonesia.

Farida mengatakan, anak memilih ikut bimbingan belajar karena ia merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya sendiri.

Rasa tidak percaya diri ini, kata Farida, secara tidak sadar ditularkan orangtuanya sendiri. Karena terpengaruh orang lain, misalnya, orangtua mendesak anaknya agar ikut bimbingan. Padahal, sebenarnya anak itu mampu belajar sendiri.

"Dulu bimbingan belajar hanya diikuti oleh anak-anak yang kurang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Sekarang anak-anak pintar juga masuk bimbingan belajar," cetus Farida.

Guru juga punya andil menularkan rasa tidak percaya diri pada anak. Di sekolah, guru malah memanggil alumni, dalam hal ini kakak kelas yang sudah lulus dan diterima di perguruan tinggi negeri, untuk mengajar adik-adik kelasnya.

"Di mata anak, guru seperti tidak percaya diri karena mereka melimpahkan tanggung jawab ke alumni. Tanpa disadari, guru juga menganggap anak-anak alumni lebih pintar daripada mereka sendiri," kata Farida.

Orangtua dan guru punya tanggung jawab untuk memupuk rasa percaya diri pada anak. Dengan begitu, anak tidak merasa tertekan jika tidak ikut bimbingan belajar.

Proses

Agar bisa diterima di universitas yang diinginkan, kata Farida, orangtua sebaiknya menerapkan sistem belajar kontinu sejak anak masih kelas X SMA (kelas I).

Untuk itu, orangtua dan anak sudah harus menetapkan jurusan apa yang akan diambil kelak. Berangkat dari ketetapan itu, anak "digenjot" pelan-pelan untuk mendalami mata pelajaran yang akan mendukung pilihannya nanti. Begitu menginjak kelas XII, anak mulai dilatih secara intensif untuk mengerjakan soal-soal.

Yang tidak kalah penting, menurut Farida, adalah memperkenalkan beragam jurusan dan profesi kepada anak. Jadi, sejak awal anak sudah tahu jurusan apa yang akan ia tekuni.

Dengan cara ini, anak bisa fokus belajar tanpa harus berpindah-pindah jurusan karena merasa kurang cocok dengan jurusan yang diambilnya. (IND)

Read More......

Membeli Barang Berdasarkan Fungsi

Membeli Barang Berdasarkan Fungsi

Jika Anda kebetulan memiliki waktu luang untuk merenung, coba ajukan pertanyaan kepada diri Anda tentang bagaimana Anda memperlakukan harta dalam nilai-nilai hidup Anda? Apakah Anda menganggap harta segala-galanya? Atau lebih dalam lagi, apakah Anda mengukur harta Anda berdasar fungsinya atau ada nilai-nilai lain, misalnya, prestise, gengsi, dan hobi?

Pertanyaan semacam ini menjadi relevan ketika Anda memiliki tujuan keuangan. Konkretnya, mesti jelas apa sebenarnya yang melatari keinginan Anda memiliki tujuan keuangan tersebut. Sebagai contoh, Anda berkeinginan memiliki mobil. Ini menjadi tujuan keuangan Anda. Untuk mencapai tujuan tersebut, Anda bisa menabung dalam kurun waktu tertentu atau mencari pinjaman dari bank atau lembaga keuangan.

Kembali pada pertanyaan di atas, apa yang melatari keinginan Anda memiliki mobil? Anda membutuhkannya sebagai alat transportasi sehari-hari? Atau sekadar gengsi?

Tentu saja Anda bisa mempunyai segala macam alasan yang melatari. Namun, jangan lupa, alasan tersebut hanya relevan kalau kondisi keuangan Anda tidak bermasalah. Dengan kata lain, Anda memiliki kapabilitas untuk mencapainya.

Yang jadi problem adalah jika keinginan tersebut muncul ketika Anda belum berada pada tingkatan financial freedom. Sebab, sejatinya, jika Anda sudah dalam kondisi financial freedom, boleh dibilang Anda sudah tidak punya tujuan keuangan. Semuanya sudah dicapai.

Jadi, keinginan untuk mencapai tujuan keuangan sesungguhnya adalah karena kita masih memiliki ketergantungan terhadap uang. Dengan kata lain, gengsi hanya boleh dikedepankan ketika semua barang-barang yang Anda inginkan sudah menjadi priceless alias tidak bernilai uang sama sekali. Tetapi, ketika Anda masih berkutat mencari uang, keinginan memiliki suatu barang semestinya didasari oleh fungsi.

Lalu, kalau dikaitkan dengan keinginan memiliki mobil, bagaimana relevansinya?

Belilah mobil sesuai dengan kemampuan keuangan Anda saat ini. Itu prinsipnya. Kalau Anda setuju dengan prinsip ini, pertanyaan berikutnya adalah mobil seperti apa yang mesti dibeli? Pertanyaan ini akan terjawab secara otomatis ketika Anda bertanya dulu kepada diri Anda, apakah mobil yang hendak Anda beli itu dimaksudkan untuk dipakai selamanya, atau paling tidak dalam kurun waktu yang panjang, atau malah hanya bersifat sementara. Artinya, ketika kondisi keuangan membaik, Anda akan mencari mobil yang lebih baik lagi.

Secara umum, orang-orang akan memiliki mobil untuk jangka waktu tertentu. Apalagi, jika mobil tersebut pada dasarnya dibeli lebih karena fungsinya yang paling mendasar, yakni sebagai alat transportasi. Tentu saja, kalau bisa alat transportasi itu mesti aman dan nyaman. Namun, pada tahap pertama, yang terutama adalah memiliki dulu alat transportasi. Setelah kemampuan keuangan menjadi lebih baik, baru masuk pada tahap berikutnya, yakni memberikan kenyamanan.

Dengan merujuk pada paradigma tersebut, maka mobil yang hendak Anda beli suatu saat akan dijual kembali. Dengan demikian, Anda juga mesti mempertimbangkan nilai jual kendaraan. Misalnya, Anda membeli sebuah mobil dengan harga Rp 200 juta. Masa produktif mobil tersebut umpamakan 10 tahun, berarti jika didepresiasi selama 10 tahun, setiap tahun nilai mobil akan berkurang Rp 20 juta. Dus, kalau mobil tersebut Anda maksudkan dipakai selama 3 tahun, maka pada tahun ke empat nilai mobil tinggal Rp 140 juta.

Dalam realiltasnya, harga mobil di pasaran bisa lebih mahal atau lebih rendah ketimbang nilai riil dari mobil tersebut. Oleh karena itu, jika Anda membeli mobil, apakah itu mobil baru ataupun bekas, dan dimaksudkan untuk dijual kembali, maka carilah mobil yang harga pasarnya tatkala dijual bisa lebih tinggi ketimbang nilai riil dari mobil dimaksud. Ini bisa terjadi karena harga pasar sering kali dibentuk berdasarkan persepsi, bukan semata-mata berdasarkan depresiasinya. Dan dalam konteks persepsi ini, termasuk juga merek dari kendaraan tersebut.

Yang kerap menjadi problem adalah banyak kalangan menginginkan semua fungsi ada dalam satu kendaraan. Boleh jadi memang ada kendaraan yang seperti itu, tetapi harganya mungkin tidak terjangkau. Atau, kalau bernasib baik, bisa saja menemukan kendaraan yang memberikan fungsi transportasi, keamanan, dan kenyamanan. Namun, ironisnya, ketika dijual kembali, harga mobil tersebut sudah sangat rendah dan bahkan di bawah nilai ekonomisnya. Kenapa bisa demikian? Karena barang memiliki merek. Dan merek memiliki persepsi. Dan ini tidak memiliki kaitan yang kuat dengan fungsi.

Jadi, kalau Anda tidak ingin terjebak dalam kerugian finansial di masa datang—karena membeli suatu barang hanya berdasarkan persepsi atau gengsi—belilah barang, termasuk kendaraan, yang nilai fungsinya sejalan dengan nilai ekonomisnya. Termasuk dalam hal ini adalah tatkala kendaraan tersebut dijual kembali setelah Anda pergunakan sekian tahun.

Dan seperti dipaparkan di atas, barang yang dibeli berdasarkan prestise atau gengsi hanya layak dibeli jika Anda maksudkan untuk dipakai sepanjang masa. Sementara jika barang yang Anda beli direncanakan untuk dijual lagi, atau hanya dipakai dalam jangka waktu tertentu, belilah barang berdasarkan fungsi.

Untuk membuktikan tesis ini, silakan cek sekitar Anda, bagaimana mobil-mobil yang tergolong mewah yang menawarkan keamanan, kenyamanan, dan gengsi setelah sekian tahun menjadi sangat jatuh harganya ketika dijual kembali. Sementara yang berkategori tidak mewah umumnya memiliki harga jual kembali yang tidak terlalu jelek. Kenapa? Karena permintaan terhadap fungsi lebih banyak ketimbang permintaan terhadap gengsi..

Read More......

Wednesday, July 11, 2007

Butik Berkonsep ”One Stop Shopping”



Rumah Dian
Butik Berkonsep ”One Stop Shopping”

Foto : SH/Tinnes Sanger

JAKARTA – Berbagai butik dengan koleksi baik luar maupun lokal kini kian marak bermunculan di kawasan selatan kota Jakarta, seperti Kebayoran Baru. Masing-masing pun memiliki cara untuk memasarkan produk dagangannya. Ini berkaitan dengan target pembeli yang ditetapkan masing-masing butik. Konsep penjualan ”one stop shopping” direalisasikan oleh seorang perempuan pengusaha muda sekaligus perancang busana, Dian Indiarso. Ia mendirikan butik eksklusif Rumah Dian di Jalan Barito No. 7B Kebayoran Baru pada 9 Juni lalu yang diresmikan oleh istri Wapres RI, Nani Hamzah Haz dan dihadiri pula oleh Ketua Umum IWAPI Suryani Motik dan Sekjen Melani Suherli.
Koleksi yang dijual Dian sendiri mengarah kepada kebaya moderen dan baju dengan bordiran dan manik-manik, meski sesungguhnya ia mengaku bisa menjahit apa saja sejak sembilan tahun lalu. ”Saya itu otodidak, istilahnya dulu mulai dari terima jahitan yang terus dikembangkan hingga sekarang bisa punya butik,” ujar ibu beranak satu asal Pontianak ini.
Sementara bahan kebaya atau baju yang dipilih adalah Rawsilk, Thaisilk dan tidak ketinggalan Katun. Maksudnya, agar hasil rancangan Dian yang memiliki ukuran S,M, L, Double L dan XL ini bisa dipakai untuk acara kasual hingga formal dalam aktivitas hari-hari.
Menariknya, di dalam satu atap bangunan berukuran 15X7 meter di Jalan Barito No.7B dengan dua lantai ini ada produk-produk lain yang bukan milik Dian pribadi.
Dalam hal ini ia berhasil merangkul teman-teman dekatnya untuk turut meramaikan butiknya tersebut dengan koleksi masing-masing. Semua koleksi milik teman-temannya cocok dipadupadankan dengan baju-baju rancangan Dian. ”Saya ingin ketika seorang pembeli ke sini, tidak perlu repot mencari-cari padanannya lagi,” ujar wanita kelahiran 25 Desember 1967 itu. Menurut Dian, untuk satu stel baju hasil rancangannya bisa diperoleh dengan harga Rp1,6 juta. Ia berharap setiap pembeli setelah keluar dari Rumah Dian bisa langsung tampil cantik mengesankan. Sebab, baju-baju rancangannya bisa cocok dipadukan dengan kain songket, batik, celana panjang hingga celana jins sekalipun.
Dengan alasan tersebut pula ia merangkul teman-teman terdekat untuk menempati Rumah Dian dengan berbagai koleksi. Di antaranya ada koleksi dari Monse yang lahir dari ide kreatif dua wanita, Medy Meraxa dan Adri Wawan. Kedua desainer tersebut berkolaborasi dalam membuat selop, sepatu dan tas. Ciri khas yang paling menonjol dari karya keduanya ini yakni sentuhan mutiara jenis fresh water pearl dan batu-batuan termasuk kristal. Menurut Adri, ide ini muncul setelah ada tawaran untuk mengisi gerai di Stage, Kemang. Lalu Adri dan Medy sepakat merancang tas dan selop/sepatu berlogo Monse. Nuansanya ganda yakni bisa resmi dan kasual.
”Awalnya hanya dipakai untuk pribadi lalu didorong teman-teman mereka untuk mengikuti pameran setelah melihat hasilnya,” ujar Medy. Akhirnya, dipilihlah logo Monse untuk hasil karya mereka berdua yang dijual dengan harga antara Rp500 hingga Rp950.000. ”Pokoknya harga produk Monse di bawah Rp1 juta,” imbuh Adri. Medy juga mengatakan bahwa ia siap menyediakan sepatu untuk perkawinan.
Kalau Monse adalah produk lokal, Nita Yudi dan Wenny Andy punya pilihan lain lagi. Tas dan sepatu yang ditawarkan oleh keduanya ialah justru barang-barang impor dengan merek terkenal dan asli. ”Bisa pesan juga, kok?” Ia memastikan harganya lebih murah kira-kira 10 persen daripada harga di mal atau pusat perbelanjaan lain. ”Saya belanja barang-barang ini di Paris,” ujar Wenny ketika ditemui SH di Rumah Dian.
Sedangkan untuk kategori perhiasan sebagai pelengkap penampilan konsumen di Rumah Dian juga ada kalung, gelang dan sebagainya dari Sai Pearls karya Roswita R.Arifin. Di sini model yang dipilih mengarah kepada tampilan yang elegan. Tentu saja ini sangat pas menjadi pemanis koleksi Dian Indiarso bersama kebaya rawsilk jika pembeli berminat memadukannya.
Konsep ”one stop shopping” terbukti sanggup menarik minat pasar. Menurut Dr.Rita Saptawati yang sehari-harinya membantu Dian dalam menjalankan bisnis ini, ia mengatakan sedikitnya ada lima hingga sepuluh pengunjung per hari. ”Pertama-tama pastinya mereka lihat-lihat dulu dan ada juga orang lewat terus penasaran ingin berhenti,” ujar dokter umum di sebuah Rumah Sakit di Jakarta ini. ”Alhamdulillah sih, dari lihat-lihat terus beli dan mau datang lagi di kemudian hari.”
Butik-butik yang menjual karya-karya perancang lokal Indonesia maupun hasil impor dari mancanegara terbilang populer di Jakarta. Apalagi jika letaknya di kawasan elite seperti Kebayoran Baru yang notabene juga banyak dihuni oleh kalangan ekspatriat. Hadirnya Rumah Dian pun membantu menyemarakkan dunia mode Indonesia sekaligus meningkatkan daya seni dan kreativitas orang. Bayangkan, baik Dian sendiri maupun rekan-rekannya bukanlah orang yang berlatar belakang pendidikan desain baju maupun yang lainnya. Toh mereka sanggup mengembangkan kemampuan otodidak masing-masing. Dengan bermodalkan keberanian, Dian pun berencana untuk ekspansi ke negeri tetangga dalam memasarkan produk fesyennya yang telah sampai ke Malaysia. Siapa tahu nanti bisa bangun Rumah Dian yang lain. (SH/sally piri)

Read More......

Mengembangkan Butik Lewat Internet

Shinta Rahmani
Mengembangkan Butik Lewat Internet



Dengan membuat layanan online ia berharap dapat go international, dikenal banyak kalangan, dan tentu saja ada efisiensi promosi Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Setidaknya itulah yang diyakini Shinta Rahmani saat mencoba membuka butik setelah memutuskan berhenti bekerja dari sebuah perusahaan asing. Wanita ini memberanikan diri memulai usaha baru hanya berbekal hobi menjahit.

Keahliaan menjahitnya ini ia asah lagi dengan mengikuti kursus di Edi Budiharjo selama satu tahun. Kemudian hasil jahitan yang ada ia tawarkan pada teman-teman dekatnya dan ternyata banyak yang tertarik. Yang menarik, usaha butik ini dijalankan dengan memadukan konsep butik sekaligus promosi lewat online dan delivery jahitan. ''Saya hanya ingin memberikan hasil yang memuaskan bagi pelanggan,'' kata Shinta. Untuk memasarkan hasil jahitannya ini ia menggunakan sistem jemput bola.

Shinta mencari pelanggan lewat internet yang menurutnya sangat efisien, disamping melakukan penawaran langsung secara personal. Ide membuat website dengan nama www.krayastudio.com ini datang dari adiknya yang bergelut di bidang komputer, selain Shinta memang tak asing lagi dengan dunia maya ini selama ia bekerja sebelumnya. ''Saya pikir dengan membuat website usaha saya bisa go international dan dikenal oleh banyak kalangan. Siapa tahu bisa dapat klien dari luar negeri,'' ujar Shinta. Lewat internet ini pelanggan dapat memesan jahitan berikut desain yang diinginkannya.

Nama Kraya Studio sendiri diambil dari nama kedua anaknya yang merupakan inspirasi utama bagi Shinta menjalankan usaha butik ini. Shinta mempertahankan hubungan dengan pelanggan lewat kualitas jahitan yang terjaga. ''Saya mengutamakan pada kenyamanan dan keindahan hasil rancangan sesuai karakter dan postur tubuh,'' ujarnya. Detail bordir yang menjadi ciri khas koleksi Kraya Studio ini. Setelah menerima pesanan lewat internet Shinta akan datang ke tempat pelanggan. Tak pelak, ungkapnya, pelanggannya sebagian besar adalah pengguna internet dan wanita bekerja di kawasan Sudirman, Thamrin, dan Kuningan, Jakarta.

Ia akan melakukan pengukuran badan, membuat pola, bahkan sampai mendesain sendiri baju pelanggannya. Untuk efisiensi, Shinta memberikan syarat minimal tiga potong busana yang untuk dijahitkan. ''Untuk menghemat ongkos,'' alasannya. Namun, biasanya tiap tempat ia bisa menerima jahitan hingga 8-10 potong. Dengan banyaknya pesanan ini ibu dua anak ini memutuskan untuk mempekerjakan tiga tukang jahit. Usaha yang dirintis sejak Mei 2003 ini kian berkembang dengan menembus Pasaraya sebagai outlet karyanya. Hal ini kian mendatangkan kepercayaan diri Shinta untuk makin serius mendalami keputusannya ini.

Harga pakaian yang disuplainya ke Pasaraya berkisar Rp 125 ribu sampai Rp 350 ribu per potong. Awalnya Shinta memang tak mendesain sendiri pesanan jahitan yang ada. Kemudian ia mulai memberikan saran desain jika ada pelanggan yang memintannya. Lama kelamaan diputuskannya untuk sekaligus mendesain sendiri busana yang ingin dijahitkan padanya. Biasanya tiap desain hanya dibuat sebanyak tiga potong dengan ukuran S, M, dan L. ''Hal ini saya lakukan karena pelanggan biasanya tidak suka bajunya sama dengan orang lain, biar enggak pasaran,'' jelasnya. Saat ini Shinta menyediakan waktu layanan jahit minimal dua minggu tiap potong busana.

''Sekarang bisa lebih dari dua minggu, karena banyak pesanan. Dari yang mau bikin seragam panitia sampai acara hajatan,'' ujarnya. Selain menjahit pakaian, ia juga membuat tas rancangannya sendiri yang dijual dengan harga Rp 60 ribu per buah. Omzet awal yang dihasilkan Shinta pada bulan-bulan pertama menerima pesanan sekitar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta per bulan. Tapi, dengan bertambahnya pelanggan, otomatis bertambah pula omzet penjualan yang dihasilkannya. Kini ia berhasil mengantungi hasil penjualan hingga Rp 10 juta per bulan. ''Saya bersyukur sekali bisa menjalankan usaha ini dengan lancar, bahkan penghasilannya bisa melebihi kerja di kantor,'' katanya.

Sebagian besar koleksi yang dihasilkan Shinta diperuntukkan bagi wanita, seperti blus, busana Muslim, dan busana kerja. Saat ini ia juga berniat mendesain pakaian remaja. ''Sudah banyak permitaan dan kebetulan sama dengan usia anak saya yang beranjak remaja,'' ujarnya. Rencana lainnya adalah membuka kursus menjahit pada bulan Juni nanti. ''Hanya tinggal menunggu bukunya selesai dibuat dan bagi yang berminat langsung saja menghubungi saya,'' promosinya.

Read More......

Saturday, June 09, 2007

Mencari Mulia dalam Ber-"Asyik Masyuk"

Agama
Mencari Mulia dalam Ber-"Asyik Masyuk"

Ilham D Sannang

Penggandengan kata "agama" dan "senggama" pertama kalinya saya dengar di MP Book Point Cipete, Jakarta, dalam acara peluncuran memoar God’s Call Girl, Sang Pelacur Tuhan (Voila Books). Memoar itu mengisahkan pergulatan hidup Carla Van Raay, mantan biarawati yang terjerumus dalam bisnis pekerja seks, lalu bertobat.

Sungguh menarik dan mengejutkan telinga dan isi kepala ketika gagasan "agama" dan "senggama" ditelisik hubungannya. Apalagi, salah satu pembicaranya adalah seorang agamawan (yang berselibat; tidak bersenggama), Romo Haryatmoko, dosen filsafat lulusan Sorbonne, Perancis, yang kini mengajar di sejumlah universitas bergengsi di Tanah Air.

Pengaitan "agama" dan "senggama" sendiri sebenarnya adalah sesuatu hal yang klasik, namun tak lepas dari kontroversi. Bagi tradisi budaya/masyarakat tertentu, agama diasosiasikan dengan "kesucian", sedangkan "senggama" diasosiasikan dengan "kekotoran" dan "dosa", atau setidaknya "tabu". Seks menjadi sesuatu hal yang tabu dibicarakan di depan umum karena "memalukan", sedangkan agama adalah hal yang selalu didengung-dengungkan/dirayakan dalam berbagai kesempatan, walaupun belum tentu diamalkan.

Mungkin ini bedanya agama dan senggama: agama selalu dibicarakan, ritualnya dirayakan, tapi hakikatnya malas diamalkan. Senggama sebaliknya: tabu dibicarakan, tapi rajin diamalkan. Mengapa? Berbicara tentang agama adalah terpuji. Berbicara tentang seks dan senggama dianggap keji.

Hanya orang-orang tertentu sajalah yang berhasil berpantang diri dari senggama, dan mampu menyalurkannya secara positif lewat sublimasi sehingga melahirkan kreativitas dan karya- karya yang hebat. Walhasil, seks dan agama selalu saja bergandengan, walaupun tidak selalu bersimbiosis dengan nyaman.

Yesus, figur sentral dalam agama Kristen, dan nabi yang juga dimuliakan umat Islam, menerima dengan baik seorang mantan pekerja seks yang bertobat, yang lalu menjadi wanita terhormat. Perempuan ini bahkan begitu mencintai Yesus sehingga ia rela membasahi kaki gurunya tersebut dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian, ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi (Lukas, 7:38). Kaum pria yang menyaksikan peristiwa tersebut menganggapnya sebagai pelecehan, tetapi Yesus sendiri tidak menganggapnya demikian.

Dalam Islam, bersenggama bahkan berpahala, asal dilakukan istri dan suami. Bukankah kalau bersenggama dengan selain istri/suami sendiri adalah dosa? Maka, demikianlah, jika dilakukan sesuai tuntunan Tuhan, senggama mendatangkan ganjaran pahala. Menurut ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SWA ini, agama bahkan berjalin erat dengan senggama. Bagaimana tidak? Bukankah salah satu kebaikan yang akan terus mengalir sampai hari kiamat adalah doa anak saleh kepada orangtua?

Bahkan, fungsi rekreasi duniawi ini dikatakan sebagai "prolog" saja agar manusia semakin bersemangat mengejar kenikmatan surgawi yang jauh melampaui dimensi duniawi. Fungsi rekreasi suami-istri ini begitu ditekankan oleh Nabi. Beliau menasihati agar laki-laki tidak menghampiri para istri dengan semangat mementingkan diri sendiri. Namun, hendaknya memulai dengan mengirimkan "rasul-rasul" (utusan) pembawa "risalah" (pesan). Ketika para sahabatnya bingung dengan maksudnya, Rasul menegaskan bahwa "utusan dan pesan" itu berupa ciuman dan pelukan.

Ini adalah komunikasi dialogis (timbal-balik) tubuh, sebagai hidangan awal sehingga sang istri siap memasuki hidangan utama. Jika "utusan dan pesan" ciuman dan pelukan ini diabaikan, para istri tidak akan merasa nyaman dan akan merasa hanya dimanfaatkan layaknya barang.

Budaya patriarki

Namun, alangkah sayangnya ketika agama yang suci ini dikotori oleh persepsi dan budaya patriarki. Dengan persepsi patriarkis ini, perempuan selalu menjadi obyek penderita (yang sering kali benar-benar menderita), sedangkan laki-laki menjadi subyek pelaku yang "serbakuasa serbatahu". Seks menjadi alat dan simbol kuasa.

Memang, laki-laki adalah imam/pemimpin di rumah tangganya. Namun, bias patriarki yang kental akan membuat kepemimpinannya tidak disertai tanggung jawab dan cinta. Ayat pemimpin itu (laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, QS, 4:34) dicabut rohnya. Padahal, memimpin berarti mencintai yang dipimpin. Mencinta berarti memberi, bukan mengambil.

Dalam perspektif patriarki, menjadi pemimpin dianggap sebagai hak. Padahal, dalam perspektif yang seimbang sesuai tuntunan Nabi dan Tuhan, menjadi pemimpin seyogianya terlebih dahulu dianggap sebagai kewajiban. Setelah kewajiban terlaksana, barulah hak diterima.

Cinta adalah menunaikan tanggung jawab sebelum menuntut hak. Bahkan, cinta yang tulus murni tidaklah menuntut hak sama sekali. Ia hanya sibuk memberi. Dengan demikian, terjadi hubungan timbal-balik yang harmonis, saling melindungi jiwa dan raga. "Laki-laki adalah pakaian bagi perempuan, dan perempuan adalah pakaian bagi laki-laki" (QS, 2:87). Demikian Al Quran membimbing.

Pakaian melindungi pemakainya dari panas dan hujan, melindungi kehormatan pemakainya, menimbulkan rasa nyaman, bahkan mempercantik dan mempergagahnya menjadi rupawan. Pakaian selalu lekat di badan. Hanya sekali-kali saja pakaian kita lepaskan. Demikian pula peran suami-istri. Suami- istri berupaya sekuat tenaga saling melekati, melindungi, mempercantik, mempergagah.

Maka, tidak heran, dalam budaya masyarakat patriarki agama diselewengkan. Coba lihatlah film-film bioskop tema horor- setan. Atau sinetron-sinetron "religi" di teve-teve, yang dibuka dan ditutup dengan ceramah rohani. Sang ustadz dan agamawan selalulah laki-laki. Adapun Mak Lampir, pocong, kuntilanak, sundel bolong, hantu bangku kosong, suster ngesot, semuanya perempuan.

Ke manakah perginya Pak Lampir? Abah bolong? Mantri ngesot? Mengapa hantu-hantu itu selalu perempuan? Dan, mengapa sang pengusir hantu itu selalu laki-laki agamawan? Ini adalah produk-produk budaya patriarki; segalanya dilihat dari perspektif laki-laki.

Nasib perempuan

Bila ada laki-laki pecandu narkoba, atau mantan perampok, yang bertobat, lantas menjadi ustadz, maka masyarakat menyambut hangat. Adakah sambutan yang sama diberikan pada mantan pelacur-nista, yang berbalik mendalami agama? Berita seperti ini rasanya jarang sampai di telinga. Adakah masyarakat kita siap menerimanya?

Sering kali kita sendiri yang menghalang-halangi saudari- saudari kita itu untuk kembali ke jalan suci. Dengan memakai standar ganda, "perempuan harus lebih bisa menahan diri dan lebih suci daripada laki- laki". Pria berdosa ditoleransi karena "manusiawi". Namun, jika wanita berdosa dicaci maki, bahkan sering kali oleh wanita sendiri.

Dosa kejatuhan Adam ke bumi dipersalahkan pada Hawa. "Memang perempuanlah penyebab bencana-kejatuhan", begitulah mereka punya pernyataan. Maka, tidaklah heran jika setan-setan dan hantu di film bioskop maupun sinetron teve kebanyakan perempuan.

Padahal, bukankah Adam juga tidak bisa menahan diri? Dan, menurut firman Tuhan dalam Al Quran, Adam dan Hawa justru sama-sama tidak dapat menahan diri (QS, 7:19-25). Jadi, sudah selayaknyalah jika diri sendirilah yang disesali. Tidak perlulah mengambinghitamkan istri, suami, atau siapa pun di luar diri. "Hitung-hitunglah diri," demikian wasiat sang sufi, Abdul Harits Al-Muhasibi.

"Jangan mengambinghitamkan keadaan," itulah pula hikmah yang dipetik oleh Romo Haryatmoko dari kisah Carla van Raay di atas; kisah sang mantan biarawati yang terperosok ke dalam bisnis pelacuran, namun akhirnya sadar kembali ke jalan yang benar.

Carla memang pernah diperkosa ayah kandungnya sendiri; pengalaman yang pasti selalu membekas jika ia berhubungan dengan laki-laki. Ia ingin lari dari derita, lalu masuk biara. Namun, ketika kedamaian tak kunjung tersua, ia justru menyalahkan biara dan agama. Dan, karena impitan ekonomi, terpaksa ia mengambil jalan dengan melanggar susila demi melayani nafsu pria.

Carla adalah korban determinasi psikologis yang diciptakannya sendiri, dengan "bantuan" kejahatan dan penderitaan yang menimpanya. Nasib buruk yang beruntun menimpa hidupnya menjadikannya berputus asa meraih kebaikan. "Mungkin sudah nasibku masuk dalam lembah hitam, maka sekalian saja harus kuhayati, nikmati, dan jalani peran dan suratan kehidupan". (Bahkan, manusia pun mencari makna dalam kejahatan yang dia lakukan!)

Bukankah kita tetap dapat meraih keselamatan, tanpa harus mengabaikan kesenangan- kesenangan karunia Tuhan?

Ilham D Sannang Editor Sebuah Penerbit di Bandung

Read More......

Sekolah Rumah ?

Sekolah Rumah?

Daoed Joesoef

Belakangan ini kian marak pelaksanaan sekolah rumah (homeschooling), yaitu rumah dijadikan tempat pembelajaran anak. Anak-anak itu didampingi dan dibantu orangtua sendiri atau dibantu menguasai pengetahuan/keterampilan tertentu yang diberikan dalam proses pembelajaran privat.

Pelaksanaan sekolah rumah ada yang dilakukan oleh satu keluarga untuk keperluan anaknya sendiri, ada pula yang diwujudkan secara kolegial antara dua atau tiga keluarga bagi anak-anak mereka. Tempat belajar ditetapkan di satu rumah terus-menerus atau bergiliran di antara rumah keluarga-keluarga yang terlibat, bagai mekanisme arisan.

Kegagalan pendidikan

Kegiatan sekolah rumah ini jelas merupakan reaksi personal terhadap pelaksanaan pendidikan sekolah formal yang dewasa ini serba kacau dan penuh ketidakpastian. Adalah wajar bila orangtua mendambakan pendidikan yang dipercaya mampu memberi keturunannya suatu pegangan yang memadai bagi kehidupannya di masa depan, paling sedikit sebagai manusia individual. Di negara merdeka mana pun, pengadaan pendidikan yang ideal ini merupakan misi suci pemerintah, mengingat ia harus bisa menyiapkan warga (citizen) yang andal.

Untuk negara-bangsa kita, misi itu jelas tercermin dalam kalimat di Pembukaan UUD 45 yang menyatakan, Pemerintah Negara Indonesia dibentuk untuk, antara lain, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Maka, reaksi warga Indonesia mengadakan sekolah rumah dapat dikatakan bukti awal kegagalan misi pendidikan pemerintah nasional. Bila pendidikan privat jenis ini memarak dan menjadi pengganti (alternatif) pendidikan sekolah formal, dalam jangka panjang ia akan berakibat fatal bagi pertumbuhan anak Indonesia menjadi manusia yang bermasyarakat (homo socialis).

Sebagus apa pun pendidikan sekolah formal yang diusahakan pemerintah, termasuk di negara maju, ia tidak akan dapat memuaskan kehendak orangtua murid untuk memenuhi kebutuhan khusus anaknya terhadap pengetahuan/keterampilan tertentu. Karena menyadari bakat anaknya yang luar biasa di bidang musik atau sekadar demi mengisi waktu di luar sekolah dengan kegiatan-kegiatan positif-didaktis, misalnya, orangtua mendatangkan guru musik ke rumah. Atau mengingat daya tangkap anaknya yang relatif rendah dan lamban untuk pelajaran tertentu, orangtua meminta seorang tutor untuk membantunya di rumah.

Pelaksanaan pembelajaran di rumah seperti ini tergolong pendidikan keluarga (famili education) yang baik karena tidak menjadi pengganti pendidikan sekolah formal, hanya sekadar berupa pelengkap. Hal ini sudah merupakan gejala biasa dalam proses pendidikan negeri maju di mana semangat kompetitif amat diagung-agungkan.

Para pengamat pendidikan Barat amat terkesan dengan peran ibu-ibu di Jepang—yang mereka sebut "education mama"—dalam membantu anaknya agar bisa masuk universitas terkemuka di negerinya. Dalam cuaca apa pun, para ibu itu mengantar dan menunggui anak-anaknya mengikuti pelajaran privat tambahan jauh sebelum mereka menempuh ujian masuk perguruan tinggi.

Memang pendidikan keluarga seharusnya erat bekerja sama dengan pendidikan sekolah formal. Artinya, orangtua dengan sadar dan sengaja berperan sebagai guru kedua di rumah setelah guru berperan sebagai orangtua kedua di sekolah.

Kerja sama ini juga demi mengimbangi berbagai akibat buruk bagi pertumbuhan kemanusiaan anak yang berasal dari pendidikan di dan oleh masyarakat yang secara spesifik tidak jelas menjadi tanggung jawab siapa.

Lain halnya dengan sekolah (pendidikan) di rumah yang dijadikan pengganti pendidikan formal. Di sini anak tidak lagi mendapat pelajaran di sekolah, tetapi hanya di rumah. Jenis sekolah rumah seperti inilah yang sebaiknya tidak dibiasakan karena bisa merusak pertumbuhan anak menjadi manusia yang bermasyarakat.

Seburuk-buruk pembelajaran di sekolah, ia tetap merupakan kesempatan anak untuk belajar bersosialisasi. Dengan bersekolah, untuk pertama kalinya anak diinisiasi mengenal, lalu bergaul dengan orang-orang yang bukan kerabatnya. Bahkan ada kalanya di saat bersekolah itulah dia mulai belajar "berpisah" dari ibu dan bapaknya untuk belajar tegak di atas kaki sendiri, di bawah bimbingan orang-orang asing, berupa guru dan teman.

Memang, di sekolah ini pula si anak akan mengalami penekanan secara mental dan fisik, mungkin ditambah gangguan dalam pelajaran pergi-pulang sekolah. Namun, bukankah hal-hal "pahit" itu merupakan gambaran nyata dari kehidupan yang bakal ditempuhnya sepanjang hayat sebagai makhluk bermasyarakat?

Dia mulai disadarkan, manusia bukan sebuah pulau yang terpisah menyendiri. Mau tidak mau dia akan berhubungan dengan orang-orang yang berbeda asal-usul keturunan/kedaerahan, berlainan kepercayaan dan bahasa ibu, serta berseberangan pendapat/pendirian mengenai berbagai masalah yang sama, dengan karakter berlawanan, dengan citra terpuji yang diunggulkan orangtuanya.

Namun, bukankah di lingkungan sekolah pula tidak jarang terjadi hal-hal "manis" yang tidak terpikirkan sebelumnya. Yang menjadi kenangan abadi di hari tua, membuatnya bernostalgia, bereuni sebisa mungkin dengan teman-teman tempo doeloe.

Sejujurnya, inisiasi human melalui persekolahan ini jauh lebih diperlukan anak dari keluarga berada di kota yang rumahnya berpagar tinggi ketimbang anak keluarga tak berpunya di kampung yang biasa hidup bertetangga secara spontan sejak lahir.

Makhluk bermasyarakat

Di negara-negara maju, sekolah rumah bukan tidak ada. Kebiasaan ini "terpaksa" dilakukan keluarga yang hidup terpencil karena kondisi kerja yang harus dipenuhi; misalnya, menjaga hutan dan national park, mengurus mercu suar, menjalankan perahu angkutan di jaringan kanal dalam negeri. Untuk ini, orangtua dibantu buku-buku dan siaran televisi yang khas untuk keperluan pendidikan privat jarak jauh.

Tulisan ini bukan bermaksud melecehkan hak asasi manusia dari setiap orangtua untuk memilih sendiri jenis pendidikan bagi keturunannya. Ia hanya ingin mengingatkan, hak itu berurusan dengan manusia yang by its very nature merupakan makhluk yang bermasyarakat dan karena itu memerlukan pendidikan yang relevan untuk bisa menjadi begitu.

Ia juga berniat menggugah pemerintah untuk serius membina lingkungan sekolah agar menjadi pusat budaya (sistem nilai) yang kondusif bagi perwujudan dua pengertian, citizenship dan res pubilica (manusia beradab yang bermasyarakat) serta manusia pemikir (homo sapiens).

Kewarganegaraan, baik sebagai fungsi maupun tanggung jawab, meliputi tidak hanya tugas dan kewajiban, tetapi juga hak dan wewenang. Sebab, dengan citizenship dalam kenyataan dimaksud sociality, mengingat tergolong civil society berarti dikaruniai seperangkat wewenang dan hak tertentu untuk mengembangkan dan menyempurnakan diri di masyarakat tanpa harus terkait hak-hak kewarganegaraan menurut artian murni, yaitu politik.

Homo sapiens pantas ditanggapi sebagai the crown of the creation. Berbeda dengan orangutan, penyu, atau elang rajawali, manusia yang berpikir tidak beroperasi sebagai individu-individu yang tersebar secara acak di suatu wilayah, tetapi sebagai pemegang andil dalam khazanah kolektif dari acquired knowledge and skills yang sebagian besar berupa kekaryaan dari generasi-generasi pendahulu. Artinya, sebelum dimatangkan menjadi makhluk yang berpikir, anak manusia harus lebih dulu disiapkan sebagai makhluk beradab yang bermasyarakat. Dan, sejarah human membuktikan sistem pendidikan sekolah formal yang dikonsepkan dengan baik mampu menyiapkan dan mematangkan hal-hal yang disebut tadi.

Tanpa keberadaan warga yang berupa homo sapiens yang tumbuh dari homo socialis, kehadiran Republik Indonesia di peta dunia merupakan kebetulan belaka.

Daoed Joesoef Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Pembangunan III, 1978-1983

Read More......

Wednesday, June 06, 2007

Modal itu tak hanya uang ………)

Modal itu tak hanya uang ………)
Kontribusi dari ccde.or.id

Cut Rismayanti. Sikap keibuan dan suara lembutnya selalu menghiasi seluruh percakapan
kami malam itu. Terkadang diselingi tawa dan canda. Ia bercerita dengan lugas mengenai pengalamannya dalam menjalankan usaha selama ini. Tentu saja, jatuh bangun itu tak luput dari pengalaman hidupnya.
Kak Cut, begitu sapaannya sehari-hari. Perempuan kelahiran Jeram 29 tahun yang lalu ini tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi seorang penjahit profesional dan memiliki usaha konveksi sendiri. Sewaktu kecil, ia memiliki impian sederhana mengenai pekerjaannya di masa depan. Bukan dokter atau insinyur, layaknya banyak orang. Ia hanya ingin menjadi guru jahit seperti Umminya. Mempunyai Ummi seorang penjahit
profesional, sekaligus guru jahit di daerahnya membuat Kak Cut mengidolakan sang Ummi. Menurutnya, pekerjaan menjahit bukan pekerjaan yang sulit dan mudah mendatangkan uang karena semua diawali dari hobi.

Bakat menjahitnya sudah terlihat sejak remaja. Diawali dengan seringnya ia mengikuti kelas sang Ummi. Di sanalah rasa penasaran itu mulai muncul.Selepas umminya mengajar, seringkali ia amati design pola dan cara-cara menjahit yang tertinggal di papan tulis. Kemudian muncul niatnya untuk mulai mencoba – coba tanpa sepengetahuan sang Ummi. Sembari tertawa lepas karena geli, ia menceritakan pengalaman uniknya ketika pertama kali menjahit secara otodidak. Ketika itu ia baru duduk di kelas 2 SMP. Hasrat menjahitnya yang
sangat tinggi tidak membuatnya kehilangan akal, meskipun tidak tersedia bahan kain. Maka tanpa ragu ia gunting kain gorden pembatas pintu dan dirubah menjadi celana panjang untuk sehari-hari. Ternyata rasa penasarannya tidak berhenti sampai disitu saja. Ketika rok belah delapan lagi nge trend di kalangan anak muda jaman dulu, ia sangat ingin memiliki rok itu. Karena tidak ingin membebani Ummi, muncullah ide barunya. Tak ayal, mukena lama milik sang Ummi menjadi korban dari kreatifitasnya. Mukena lusuh itu telah berubah menjadi rok yang sangat ia idamkan dan tak kalah model dengan rok yang ada di toko – toko tanpa harus mengeluarkan uang. Meskipun bangga dengan rok barunya, namun tetap saja ia tidak bisa menghindar dari omelan Ummi. Beruntung kak Cut memiliki Ummi yang bijaksana. Melihat “kebandelannya”, akhirnya Ummi percaya bahwa kak Cut kecil memang berbakat dan mulai mengajarkan padanya cara menjahit yang baik. Satu hal pesan Ummi yang selalu ia ingat adalah,“seorang penjahit baru dikatakan sukses jika orang melihat pakaian yang kita
buat tidak bisa tidur karena keindahannya”, untuk itu ia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggannya.

Ummi
Sebenarnya, kak Cut kecil tidak ada niat untuk menekuni bidang jahit – menjahit. Baginya sekolah dan belajar adalah hal utama yang ia kejar ketika itu. Sebagai anak yatim, kak Cut berusaha keras bagaimana caranya membantu meringankan beban Ummi yang harus menghidupi 5 anaknya sendirian setelah ditinggal pergi suami tercinta untuk selamanya.
Ambisi kak Cut saat itu agar selalu menjadi juara umum/kelas. Dengan demikian,ia bisa terbebas dari uang SPP, BP3 dan uang buku. Meskipun demikian, ia tetap tidak bisa menolak panggilan hatinya untuk menyelami dunia menjahit. Selain itu sang Ummi terus memotivasi melalui pujian-pujian tanpa membuatnya besar kepala.

Dan Ummi adalah guru pertama dan terhebat yang pernah ia miliki. Banyak hal yang diajarkan Ummi padanya , terutama mengenai teknik – teknik menjahit yang baik. Karena keberanian dan keterampilan yang ia miliki, kak Cut berhasil mengantongi uang sebesar Rp.
20.000,- untuk pertama kalinya, upah hasil menjahit satu stel pakaian muslim untuk anak tetangganya.

Merintis Usaha

Keseriusannya dalam menekuni dunia usaha, kak Cut lakukan dengan sungguh-sungguh. Meskipun ia sudah tinggal di Jakarta demi melanjutkan kuliah di FKIP PKK Rawamangun, tapi hobi menjahitnya tidak ia tinggalkan. Ia selalu berfikir bagaimana hobi itu dapat menghasilkan uang. Maka di tahun 2001, adalah langkah awal bisnis konveksinya. Ketika
musim haji datang, ia memproduksi pakaian haji dengan model yang berbeda dari orang kebanyakan. Dan ternyata kreativitasnya diminati khalayak ramai. Hasil jahit yang ia titipi ke orang habis terjual dengan laris manis. Dan kak Cut semakin giat memproduksi dalam jumlah besar, bukan hanya pakaian haji yang ia produksi tapi juga busana perempuan dan laki-laki pada umumnya. Ia bisa memperoleh keuntungan yang cukup besar karena bahan baku yang mudah diperoleh dan murah ditambah dengan jumlah produksi yang besar. Agar hasil produksinya selalu diminati orang,kak Cut mempunyai strategi sendiri untuk itu yaitu dengan ketelitian dan jeli dalam melihat barang-barang baru. Serta ia selalu memanfaatkan barang-barang yang kelihatannya tidak berguna, seperti kain perca. Bagaimana caranya supaya kain perca itu tidak mubazir terbuang.

Produksi besarnya tidak saja bisa diminati hanya di Jakarta atau sekitarnya, tapi ternyata hasil jahitan kak Cut juga bisa dinikmati di tanah kelahirannya Aceh. Pertama, ia kirimkan dalam jumlah sedikit hingga akhirnya banyak pesanan yang ia terima. Alhasil, Aceh menjadi komoditi kedua terbesar setelah Jakarta dalam sejarah bisnisnya.

Seabrek aktivitas mulai dari bisnis hingga kuliah bagi pasangan hidup, Asnawi yang juga putra Aceh – itu tidak membuatnya sombong dan melupakan jasa sang Ummi. Ia selalu memberikan perhatian khusus bagi Ummi tercinta demi membahagiakan orang tua satu-satunya.
Hingga suatu hari setelah berunding dengan suami dan Ummi, ia memutuskan untuk pindah ke Aceh. Kepindahannya semata-mata demi memajukan tanah kelahirannya. Ia ingin seperti Ummi yang bisa mengajarkan keahlian yang ia miliki kepada perempuan-perempuan di daerahnya.
Selain itu, ia juga melihat peluang pasar yang cukup menjanjikan bagi usahanya.Maka di bulan December 2004, ia kembali ke tempat dimana dulu ia dilahirkan. Segudang rencana telah ia persiapkan. Semua barang-barang yang sudah ia dan suami miliki di Jakarta
terutama alat-alat produksi, mereka boyong ke Aceh. Sebagai anak manusia, semua bisa berencana. Semua bisa bermimpi. Semua bisa berusaha. Namun ada yang memutuskan karena semua adalah kehendakNya. Jerit tangis, pilu dan kesedihan pada 26 December 2004 – dua tahun yang lalu di bumi Serambi Mekkah juga tak luput dari dirinya. Terombang – ambing arus tsunami yang garang, masih bisa membuatnya bertahan dan menatap dunia untuk kedua kalinya. Sekarung kain perca peninggalan Mak Cik – ibu angkat yang sangat ia kasihi telah menyelamatkan hidupnya atas izin Allah SWT. Kain perca yang tak berguna ...

Pengungsian
Bertahan hidup di bawah tenda bantuan meskipun sulit namun tidak menyurutkan semangatnya untuk terus mengais rezeki. Teringat keterampilan pembantu rumah tangganya di Jakarta dalam mengolah nasi sisa yang masih bersih untuk dijadikan kerupuk nasi, maka ia coba untuk melakukan hal yang serupa.Berbekal nasi sisa dan kaleng sarden yang sudah dibersihkan untuk mencetak,dengan bantuan suami ia mulai menjajakan kerupuk nasi di tempat pengungsian dan ada juga yang dititipkan ke orang untuk di jual.
Tanah bekas tsunami yang subur juga tak luput dari kejeliannya. Ia membeli bijih bayam untuk disemai di sekitar tenda. Dan tak lama bayam-bayam itu pun mulai tumbuh subur hingga sebatas pinggang. Hanya saja, setelah dimasak, bayam itu mengeluarkan rasa pahit. Tapi kak Cut tidak hilang akal untuk memanfaatkan daun bayam yang besar dan lebar. Keahliannya ternyata tidak hanya menjahit tapi juga dalam membuat keripik bayam. Tanpa disangka, keripik bayam kak Cut laku di pengungsian. Hasil penjualan keripik bayam dan tambahan uang dari suami, membuat pasangan itu mampu membeli sebuah kulkas bekas. Terfikir udara pasca tsunami yang sangat panas, maka kak Cut mulai berjualan es batu sebagai variasi dagangannya. Matanya menerawang ke masa –masa sulit itu, ia berkata
lirih “ya tuhan… dulu, aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi penjual es batu ..” namun seulas senyum mulai menghiasi wajah manisnya ,”.. ah itu semua adalah ujian yang harus aku lalui …” .

Titik Balik

Suatu hari,istri kenalan suaminya meminta kak Cut menjahitkan bajunya. Sebelumnya mereka memang sudah saling kenal baik. Maka mulailah kak Cut kembali menggeluti keahlian
utamanya – menjahit. Tapi ternyata usaha itu tak semudah dulu. Saat menggunting
dan membuat pola ia lakukan dibawah tenda. Dan ia harus berjalan hampir 2 km hanya untuk mengobras. Waktunya menjahit, ia lakukan di rumah si pemesan karena hanya disana mesin jahit tersedia. Setelah menyelesaikan pesanan yang diminta,kak Cut mulai berfikir untuk mencari mesin jahit bekas dan meneruskan usahanya dari nol. Apa daya, ketika itu uang ditangan tidak cukup meskipun untuk membeli mesin bekas. Akhirnya kepada istri kenalan suaminya, ia menawarkan jasanya untuk ditukarkan dengan mesin jahit bekas. Istri kenalan suaminya menyetujui tawaran kak Cut dengan syarat ia harus menjahitkan 6 pasang baju sutera. Meskiupun ia merasa tak sesuai, namun barter itu pun dimulai. Setelah memiliki
mesin jahit bekas sebagai modal usahanya. Ia dan suami memutuskan untuk berhenti
pasrah pada bantuan. 3 bulan hidup di bawah tenda telah membuat mereka terlena karenanya.
Mereka tidak mau keadaan itu berlangsung lama. Maka diputuskanlah untuk menyewa
sebuah ruko di simpang empat Nagan Raya. Di rumah sewa itu, kak Cut dan suami memulai semuanya seperti dulu lagi.

Dengan harga awal jahitan yang mulanya Rp. 40.000,- saat ini kak Cut sudah mampu memiliki 2 mesin jahit dynamo, 1 mesin obras dan 1 mesin bordir. Mesin jahit lama, kak Cut berikan kepada seorang janda yang membutuhkan. Janda tersebut memiliki keahlian namun tidak mampu membeli mesin jahit. Maka dengan sukarela ia membantu janda tersebut. Kak Cut berpesan jika nanti sang Janda sudah mampu membeli mesin yang baru, tolong agar mesin
tersebut dikembalikan padanya atau diberikan kepada orang yang sangat membutuhkan.
Karena ia tidak ingin mesin jahit bekas itu dijual karena mesin itu telah menjadi bahagian dari sejarah hidupnya.

Apa yang membuat usahanya berbeda?

Kini, ia bisa menikmati kembali hasil jerih payahnya. Bahkan dari keuntungan yang ia dapatkan, kak Cut bisa melanjutkan lagi kuliah yang dulu sempat terhenti karena kepindahannya ke Aceh. Menurutnya, sukses atau tidaknya sebuah usaha tergantung dari konsep dagang yang dijalankan. Dalam berdagang, kak Cut memang tegas mungkin terkesan pelit.
Tapi menurutnya, aturan itu harus jelas, “jika mau beli bilang beli, jika mau utang bilang utang dan jika mau minta bilang minta…”.
Selain pintar membaca pasar, ada satu hal lagi yang membuat usaha kak Cut ini menarik. Tanpa segan ia membeberkan kunci suksesnya dalam menarik pelanggan, yaitu dengan service memuaskan.
Artinya, semisal ketika musim haji. Setiap pelanggan pertama yang menjahit baju
padanya, tidak ia kenakan bayaran alias gratis setiap tahun. Lho bagaimana bayarnya? Dengan tersipu malu ia menjawab dengan lembut,“panggil saya di tanah suci …”
Kak Cut (Cut Rismayanti) adalah satu dari sedikit perempuan yang bisa menggali potensi diri untuk mencapai kesuksesan. Baginya, modal itu tidak melulu uang, tapi apa yang
dimiliki seseorang itu adalah modal utama. (Mlv)

Read More......

Pilih - pilih tukang jahit

Bosan dengan pakaian ala departemen store? Saatnya tunjukkan gaya Anda sendiri. Jahit pakaian sesuai selera boleh juga. Tapi pandai-pandai memilih tukang jahit andalan

Penjahit hebat bisa mengerti dengan jelas model busana yang Anda inginkan. Yang tentunya sesuai dengan kepribadian Anda. Mereka juga biasanya bisa memberikan solusi terbaik untuk mengubah pakaian lama Anda dengan sedikit sentuhan magis.

Tapi tak semua tukang jahit sehebat itu. Tentu saja Anda harus pandai-pandai memilih tukang jahit yang benar-benar bisa diandalkan. Simak dulu tips berikut?

1. Anda bisa meminta rekomendasi dari kerabat atau sahabat dekat Anda. Biasanya tukang jahit yang jempolan punya pelanggan cukup banyak.

2. Berbincang dengan penjahit tentang kemampuan dan pengalaman mereka tak ada salahnya. Apakah mereka pernah mengerjakan pesanan khusus seperti gaun pengantin atau kebaya? Pakaian wanita atau pria?

3. Periksa ketepatan waktu sang penjahit. Jika memungkinkan berikan yang tak terlalu mepet dengan kebutuhan Anda. Anda harus memperhitungkan waktu molor yang tidak diharapkan.

4. Perhitungkan juga masalah biaya. Seorang penjahit biasanya akan memberitahukan kepada Anda kebutuhan biaya apa saja yang diperlukan untuk membuat baju tersebut. Hal-hal ini perlu diuraikan sebelum mereka memberikan harga pasti.

5. Untuk desain pakaian, mintalah beberapa contoh karya yang pernah dibuat si penjahit. Bila perlu dapatkan juga nama-nama beberapa pelanggannya. Untuk lebih memastikan hasil kerja si penjahit Anda bisa mencari tahu dari pelanggan lain apakah mereka puas dengan hasil kerja si penjahit dan apakah selesai tepat waktu.

6. Bawalah bahan/kain atau gambar model baju yang Anda inginkan sebagai ilustrasi. Jika penjahit enggan mencoba sesuatu yang baru, tanyakan alasannya. Mungkin pandangannya bisa meerubah pendapat Anda.

7. Coba dengarkan pendapat penjahit tentang merombak pakaian yang telah ada. Cocokkan juga dengan harga. Tak masalah bukan membayar sedikit mahal jika hasilnya sangat memuaskan.

8. Sekali cocok, jangan lupa deskripsikan pekerjaan penjahit dalam sebuah kertas cantumkan juga tanggal jadi dan harga agar semua teratur dengan sesuai.

Satu lagi jika diperlukan Anda boleh minta jadwal untuk melakukan . Mungkin dengan demikian kesalahan yang terjadi bisa diminimalis

Read More......

Tuesday, June 05, 2007

Honda Terlalu Konservatif dan Lamban

Pengalaman adalah guru yang tak tertandingi.

Peribahasa yang sangat umum di ucapkan, mulai dari jenjang sekolah hingga kedalam dunia kerja. Tetapi apa yang dilakukan oleh Astra Honda Motor masih jauh panggang dari api. Entah apa yang membuat produsen motor paling besar di dunia ini enggan melakukan interospeksi diri.

Dominasi puluhan tahun AHM di tanah air kini sirna sudah. Keunggulan penjualan ratusan ribu unit pertahun kini telah direbut oleh Yamaha. Meski kini penjualan AHM kembali unggul sekitar 9 ribu unit tetapi ini bukan berarti Honda akan kembali mendominasi pasar nasional. Ini hanya merupakan faktor kebetulan, karena di saat yang sama produsen saingan terberat Honda, Yamaha mengalami kerusakan pada production line sehingga terhambatnya distribusi motor Yamaha kepada konsumenya. Secara langsung berpengaruh dalam jumlah penjualan Yamaha di Indonesia.

Honda masih memakai pola tahun 80an …

Apa yang dilakukan Astra Honda Motor memang terbilang tidak masuk akal. Bahkan keputusan jajaran direksi Astra Honda Motor Indonesia menjadi topik yang dibahas secara resmi di dalam diskusi ”Managerial Decision Making” di Holmes Institute - James Cook University Melbourne. Menurut para pakar yang membahas masalah ini, yang terjadi pada AHM adalah ”Jajaran direksi pada AHM tidak dapat menganalisa pasar secara seksama dan bahkan cenderung terlalu berpandangan sempit dan konservatif”. Hal tersebut umumnya terjadi pada perusahaan menegah ke bawah, tetapi hal seperti ini hampir tidak pernah terjadi pada perusahaan raksaksa apalagi perusahaan multi nasional yang berasal dari Jepang. Kejadian serupa biasanya terjadi pada industri otomotif menengah seperti perusahan Triumph Motorcycle Company, yang sempat bangkrut pada tahun 1983. Faktor yang menjadikan Triumph bangkrut adalah sikap konservatif jajaran direksi perusahaan yang enggan merubah dan menambah jajaran produk , terutama produk yang diinginkan konsumen. Sejak kebangkitan ekonomi tahun 80an, ”Pelanggan adalah raja” yang artinya produsen sudah tidak dapat mendikte keinginan konsumen namun justru konsumenlah yang mendikte produsen.

Kalau kita berasumsi dengan keputusan jajaran direksi Astra yang hyper konservatif akan menjadikan Astra Honda Motor mengalami kebangkrutan, sepertinya hal demikian tidak akan terjadi. Tetapi jika tetap di biarkan, jangankan mengejar Yamaha, untuk bersaing dengan Suzuki pun mungkin sulit. Akhirnya Honda harus bersiap menjadi produsen motor nomor tiga di tanah air.

Apa susahnya merilis produk hi-end ?

Salah satu faktor yang paling mencolok di mata masyarakat awam adalah keengganan AHM melakukan perakitan produk Hi-end, seperti Honda CBR 150. Padahal jika Honda memproduksi CBR 150, dijamin harga motor tersebut akan turun setidaknya sekitar 15-20 persen dan dijamin dapat dengan mudah mematahkan dominasi Kawasaki di market motor sport nasional.

Belum lagi Honda Tiger, yang hanya berganti baju terus terusan. Mau sampai kapan AHM bermain main seperti ini, mengharap konsumen tertipu dengan baju baru mesin lama Tiger Revo? Apakah Honda lupa bahwa tak jauh dari Indonesia telah lama beredar motor Honda jenis CBF 250 dan VTR 250? Kalau menganggap luar negri bukanlah faktor yang diperhitungkan, bagai mana jika melihat keadaan pasar di tanah air? Yamaha dengan V-ixion dan Bajaj Pulsar 180 DTSi sudah menjadi bahaya laten bagi Tiger Revo. Kalau bukan karena nama besar dan jaminan 3S terus terang saja Honda Tiger Revo bisa dibilang tida ada apa apanya sama sekali dibanding dua pesaingnya tersebut.

Dalih terakhir jajaran direksi AHM kemungkinan ialah : “Pasar bebek yang paling dominan jadi kami hanya akan berkonsentrasi ke market tersebut saja!” tapi buktinya ? Nihil! Jajaran Supra dengan berbagai varian dengan atau tanpa double cakram dan velg racing tidak terlalu berpengaruh. Disebabkan karena produk Suzuki, Yamaha dan Kawasaki sudah terlalu menarik dan canggih di banding produk Honda.

Masih mau percaya kejutan di bulan Juni ?

Satu satunya keunggulan Honda dibanding merk lain tinggal jaringan 3s Astra Honda Motor yang maha luas dan sulit disaingi oleh merk lainya, tetapi bagaimanapun ujung tombak pemasaran produk bukan melulu hanya karena nama besar dan jaringan 3s tetapi nilai jual dan daya tarik produk itu sendiri. Dijamin sehebat apapun jaringan 3s, kalau produk yang ditawarkan tidak menarik dijamin produk tersebut akan kehilangan konsumen. Apalagi dengan selogan “Paling Irit” sepertinya sudah … basi dan nggak jaman deh! Emang loe doang yang bisa bikin motor irit?

Read More......

ATPM Honda: “Tunggu Kejutan Kami di Bulan Juni ini…”

Beberapa hari ini gue lagi bingung ganti motor. Kepengennya motor laki yang besar. Mega Pro gue jual karena gue ngerasa masih kurang gede, kepengen naik motor di mana kaki gue enggak jauh lebih tinggi dari tangki. Pilihannya hanya Thunder, Tiger, dan Pulsar. Oh iya ada juga sih Ninja, tapi kemahalan kayaknya.

Berhubung gue sudah nyoba Thunder dan Pulsar, gue jadi pengen nyoba dan ngelihat langsung Tiger baru. Masalahnya motor ini muaahal buanget. So, gue buka aja Poskota untuk ngecek harga Tigi Revo. Ternyata pasarannya memang tinggi banget. Tigi 2006 masih di atas 20 juta. Gue pikir ya cincai kalau kredit setahun paling rugi dikit, kan harga jualnya tinggi.

Langsung deh habis baca Poskota gue melesat ke Honda Slipi nyari Tigi baru. Eh ternyata enggak ada. Ada sih yang tipe SW. Tapi kok ga keren, biasa aja mirip banget sama Mega Pro gue yang kemarin.

Karena penasaran, gue langsung ke Honda di Jln. Panjang yang showroomnya besar. Pasti ada dong disana. Ternyata memang ada. Di depan, gue langsung disambut dengan Santi, sales yang cukup manis dan sabar.

Gue dianter ke gudang untuk melihat Tigi Revo yang hitam. Ahh ternyata gagah banget. Knalpotnya gede, bannya gede, kekar, hitam, dll. Pokoknya macho deh! Gue mau beli! Ini motor muantab banget tampilannya!

Setelah lihat daftar harga kreditnya, gue langsung pinjem kalkulator sama mba Santi. Setelah hitung-hitung, bunganya tinggi banget nget-nget (kredit 18 bulan bunganya lebih dari 6 juta). So, gue pulang dulu untuk cari bank yang bunganya lebih rendah. Ketemu tuh BNI yang bunganya cuma 11,5%. Eh taunya hanya untuk kolektif, sebel banget gue.

Sambil browsing sana sini gue iseng ke forum HTML dan ngecek postingan bang Edwin Tutkey yang juga admin HTML dan pemilik Tiger Revo.

Betapa kagetnya gue kalau di forum itu kebanyakan isinya komplaaaiiin semua. Tiger Revo catnya jelek, mesin masih berisik seperti dulu, larinya payah kalah sama bebek, tutup sporket dari plastik, dll. Walhasil yang tadinya gue semangat 45 mau beli Tigi, jadi bete banget. Btw AHASS melayani komplain pembeli termasuk bang Edwin dan temen-temen di HTML. Jadi sekarang Tigi mereka enggak masalah.

Gue ga mempertanyakan kualitas after sales Honda dalam hal ini, pasti ok. Hanya gue mau beli motor yang enggak rese dong. Mahal tapi pakai beberapa tahun trouble free, gue enggak perlu pusing bolak-balik bengkel.

Tapi yang namanya informasi kalau belum di cross check ya belum valid. Mungkin aja beberapa Tigi yang di HTML memang kebeneran enggak bagus kualitasnya. Jadi gue harus cari info tambahan mengenai Tiger.

Kebeneran gue punya keluarga yang punya bengkel Honda di daerah Condet. Gue langsung aja tanya. Om gue bilang, di bengkel dia enggak ada satupun yang masuk Tigi Revo yang bermasalah. Dia bilang kalau sampai satu seri mesin ada yang masalah (Tigi), Honda pusat pasti akan mengundang semua pemilik AHASS untuk meeting dan menjelaskan ada masalah apa. Waktu Vario kemarin masalah, memang ada penjelasan dari pusat, tapi Tigi Revo enggak ada tuh.

Penjelasan yang ok banget, tapi gue masih penasaran…

Setelah itu gue iseng masukin pertanyaan langsung ke situs Honda, dengan pengharapan Honda mengirim balik email. Gue submit ke situs Honda sekitar jam 8 pagi. Gue tanya tentang kualitas Tiger yang catnya jelek.

Sekitar jam 3 sore, temen gue bilang kalau gue ada telpon dari Honda. Gue pikir mbak Santi dari Honda Jalan Panjang yang follow up. Ternyata telpon ini langsung dari Honda pusat.

Honda : Dengan bapak Patra?
Kelly : Iya

H : Saya dari Honda pak, Bpk mengirim email kami mengenai Tiger?
K : Iya mas. Wah hebat ya, pagi submit langsung di telpon sorenya. Salut nih saya J

H : Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kepada bapak yang telah memberi masukan kepada kami.
K : Oh iya gapapa, Mas. Saya sebenarnya hanya ingin tanya apa benar Tigi Revo itu masalah di cat?

H : Cat bagaimana maksudnya pak? Cat bodi?
K : Jadi begini mas. Saya suka buka situs HTML, sebuah forum Honda. Itu besar loh mas. Mas tau ga?

H : Oh gitu ya hmm… (ni orang kayaknya ga tau HTML, padahal ngurus bagian internet).
K : Di HTML itu mas, banyak yang cerita kalau Tigi Revo mereka masalah di cat yang gampang ngelupas. Yang empunya forum (Edwin) juga kena masalah. Difotoin semua lho mas. Saya jadi mikir nih beli Tigi. Apakah seri baru Tigi sudah diperbaiki?

H : Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas masukannya, Pak. Omong2 tadi di mana tadi forumnya?
K : Honda Tiger Mailing List, Mas. Mas email saya saja, nanti saya reply dengan link. Sebenarnya ya mas, saya ini concern juga dengan perusahaan Anda. Itu banyak orang komplain. Di internet kan semua orang bisa baca dengan bebas. Mas tau ga kalau internet itu pembacanya 10x lipat dari pembaca majalah? Di forum internet itu semua orang bisa baca kapan saja dan di mana saja. Selama Honda belum menanggapi, Tiger pasti akan dipikir cacat produksi. Dengan informasi Tigi Revo yang jelek itu, seharusnya Honda terjun langsung kesana dan menjelaskan. Internet itu sudah menjadi media umum mas, bukan hanya majalah dan tabloid saja. Pembacanya lebih banyak pula, kok Honda diam saja. Saya yakin sekali omongan jelek tentang Honda di Internet adalah salah satu sebab bulan lalu Honda kalah dengan Yamaha.

H : Oh iya Pak, terima kasih sebelumnya atas masukannya. Info dari Bapak ini berharga sekali bagi perusahaan kami.
K : (Masih semangat) Iya mas. Pengguna Honda seperti kami ini ingin sekali Honda buat inovasi kayak Bajaj dan Yamaha. Produk mereka canggih, Mas. Honda dari dulu begitu-begitu aja. Cuma ganti body. Sekarang konsumen sudah berubah lho, Mas. Maunya Honda canggih kayak di negara asalnya. Di sini teknologinya sudah tua, harga mahal pula.

H : Oh iya, Pak, kami mengucapkan terima kasih atas masukannya. Perusahaan kami akan mengadakan inovasi agar pengguna Honda bisa lebih puas.
K : (Ga tau diri, masih nyerocos) Mas tau ga, konsumen Honda di kelas sport, banyak yang akhirnya beli Pulsar dan V-Ixion karena Tiger dan Mega Pro mahal. Karena banyak dari kami yang ingin motor canggih. Alangkah senangnya kami kalau Honda mengeluarkan motor canggih. Kami senang sekali dengan brand anda. Tapi kalau produknya mahal dan sama saja kayak dulu, kami terpaksa ambil merk lain.

H : Oh iya, Pak, kami mengucapkan terima kasih atas masukannya. Perusahaan kami akan mengadakan inovasi agar pengguna Honda bisa lebih puas.
K : (Masih ga tau diri) Sebenarnya Honda itu beruntung punya jutaan pengguna Honda yang setia dan rela menunggu inovasi dari Honda. Sampai bela-belain enggak beli motor lain walaupun lebih canggih. Tapi kan lama-lama bisa pindah ke merk lain kalau Honda kalau enggak ada inovasi.

Sampai di sini CS Honda itu kupingnya panas juga kayaknya, simak nih obrolan berikut yang jadi info super panas. Tapi jangan salah ya, customer service Honda ini ramah sekali. Nada bicaranya terdengar kalau dia berbicara sambil tersenyum dari awal hingga akhir pembicaraan.

H : Hmm… begini, Pak. Bapak tunggu saja kejutan kami bulan Juni ini….
K : Hah? Honda mau keluar motor baru?

H : Saya masih belum bisa omong apa-apa nih, Pak. Tapi tunggu saja (masih dengan nada senyum)
K : Nah begitu dong! Berarti di PRJ ya?

H : Hmm hehehe… hehhehe… Iya belum bisa jelaskan nih Pak. Hehehe… (keceplosan tadi kayaknya).
K : Honda memang modelnya gitu ya, enggak berani bikin gosip. Kalau saya kasih ide nih mas, lebih baik Honda jauh hari sebelum ngeluarin motor, sebaiknya gosip dulu aja dikit, tapi jangan terlalu lama seperti gosip V-Ixion, nanti pada kabur karena kesal. Makanya Pulsar laku tuh.

H : Iya mas ditunggu saja. Hehehe…
K : Motor bebek ya? (masih semangat ngorek)

H : Hehehe maaf pak saya belum bisa jelaskan. Hehehe.. hehehe..
K : Motor laki ya berarti? Wah ini ganti Mega Pro atau Tiger? Hmm Tiger kan baru ya. Berarti ganti Megi ya?

H : Iya hehehe.. pokoknya ditunggu saja ya pak. Hehehe….
K : Baik mas terima kasih banyak nih sudah ditelpon. Mohon disampaikan ke petinggi atas apa yang tadi saya sampaikan.

H : Oh iya pak, kami mengucapkan terima kasih atas masukannya. Perusahaan kami akan mengadakan inovasi agar pengguna Honda bisa lebih puas.
K : (Dalam hati: Kok ngomongnya sama terus ya dari tadi nada tenkyunya? Mungkin hapalan…) Baik mas. Terima kasih banyak.

—> End of conversation.

Setelah kejadian tadi, gue berani ngambil beberapa kesimpulan :

  • Honda akan keluar motor baru. Gak tau bebek atau sport, tapi bebek kan baru keluar (Revo), jadi kemungkinan besar motor laki. Berhubung Tigi Revo belum setahun, jadi kemungkinan besar Megi yang diganti. Setelah diskusi dengan mas Ilham, kita berdua setuju kalau Megi yang kemungkinan besar diganti. Ini juga langkah yang tepat bagi Honda untuk mengeluarkan lawan untuk V-Ixion.
  • Honda sedang panas-panasnya mengejar ketinggalan dengan Yamaha. Ini bagus sekali, mudah2an sih suatu saat AHM bisa banyakin motor canggih kayak di negara asalnya.
  • Customer Service Honda mendapatkan training baru pasca kekalahan dengan Yamaha. Ini berita bagus sekali. Honda jadi enggak sekeras kepala dulu. Mereka sekarang menunggu masukan dari kita.

Bagaimana dengan teman2 bikers sekalian? Tebak deh motor apa yang akan dikeluarkan Honda di PRJ? Saya tunggu komentarnya.

Read More......